Terlambat Gaul

Bulan mei 2014, sebanyak 75 komunitas di makassar berkumpul pada satu tempat merayakan acara bertajuk Pesta Komunitas Makassar. Saya yang waktu itu selaku panitia menyempatkan diri berkeliling ke semua  booth komunitas yang tersedia, bukan karena penasaran komunitas apa saja yang ada, namun saya ingin mengumpulkan pernak-pernik komunitas berupa gantungan kunci, pin ataupun stiker.

Pura-pura akrab menjadi senjata utama saya untuk mendapatkan merchandise komunitas secara cuma-cuma. Di beberapa komunitas berhasil, tapi ada juga komunitas yang kebal akan sikap pura-pura akrab itu padahal saya juga sudah tebar pesona sejadi-jadinya. Pada akhirnya, saya berhasil mengumpulkan belasan merchandise dari beberapa komunitas secara cuma-cuma, hanya beberapa yang saya beli karena komunitas tersebut akan menggunakan hasil penjualan untuk kegiatan sosial.

pin komunitas

Merchandise Komunitas yang berhasil saya kumpulkan

Dari belasan merchandise berupa pin, gantungan kunci ataupun stiker yang berhasil saya kumpulkan, ada satu pin yang membuat saya sempat tertegun dengan kalimatnya. “ngebloglah, agar namamu terancam abadi”. Pin dari komunitas blogger Paccarita Anging Mammiri itu langsung membawa ingatan saya kepada blog yang pernah saya buat tapi tidak saya isi.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Nampaknya kalimat di pin Paccarita terinspirasi dari pepatah itu, siapa coba yang tidak mau hidup abadi? Tawaran yang sangat menggiurkan, meski saya tahu abadi yang dimaksud  bukanlah berarti hidup selamanya. Kalimat di pin itu seperti memberikan perintah kalau saya harus menulis di blog. Segera setelah pesta komunitas berakhir, blog yang sudah ada saya buka kembali tapi saya tetap tidak mampu menuliskan sesuatu.

pin pacca

Pin Blogger Anging Mammiri

Akhir Mei 2015, beberapa teman berinisiatif membentuk kelas menulis yang kami sepakati bernama “Kelas Menulis Kepo”. Barulah saat itu saya tertantang mulai menulis. Pertemuan kelas yang dibimbing oleh orang-orang yang sudah lama berkecimpung di dunia tulis menulis menjadi mata pelajaran dalam kelas ini. Satu bulan berlangsung saya berhasil menyelesaikan 3 buah tulisan, tentu dengan asistensi dan petunjuk dari sesepuh.

Ada kepuasaan tersendiri ketika tulisan kita dibaca orang lain. Saya merasakan itu ketika tulisan kedua yang berjudul “Puasa Hari Pertama bersama Ibu” berhasil saya posting di blog. Tak terkira senang yang saya rasakan ketika notifikasi dari aplikasi wordpress yang saya install di Iphone menyatakan bahwa lalu lintas pengunjung di blog sedang ramai. Bukan hanya peningkatan kunjungan yang mencapai 333 kunjungan, saya pun mendapatkan komentar sekaligus apresiasi dari tulisan saya tersebut. Bukan main girangnya saya, komentar tersebut langsung saya approve dan reply saat itu juga. Kemudian komentar-komentar lainnya bermunculan dari orang-orang yang merasa terwakili oleh tulisan tersebut. Sebagai Newbie dalam ngeblog mendapatkan 333 kunjungan dalam satu postingan seakan-akan tulisan saya dibaca oleh seluruh umat.

Statistik ini yang bikin senyum-senyum

Statistik ini yang bikin senyum-senyum

Di saat yang bersamaan saya merasa menyesal. Saya menyesal telah melewatkan banyak sekali peristiwa maupun pengalaman yang saya alami namun tidak saya abadikan dalam bentuk tulisan. Kenapa tidak dari dulu saya menulis di blog? pertanyaan yang tiba-tiba terbersit,  saya bisa menuliskan kisah-kisah perantauan saya ke Makassar untuk menuntut ilmu misalnya, atau menulis tentang kisah percintaan saya pada saat jatuh cinta pun ketika patah hati. Menulis menyadarkan saya bahwa setiap langkah yang kita jejakkan bisa menjadi tulisan jika kita mau memulainya. Menulis juga membuat indra yang ada ditubuh seakan bekerja lebih peka, tinggal si pemilik indra yang meramunya dalam tulisan.

Mengutip kata seorang teman “Menyesalka terlambat kenalki semua”. Seandainya saja dari dulu saya kenal dengan teman-teman di kelas menulis dan pengajar yang sangat mahir, tentu blog saya sudah ada tulisan older post-nya.

Saya merasa terlambat gaul. Gaul tidak melulu punya teman yang banyak, nongkrong di tempat-tempat yang sedang happening, memakai pakaian yang sedang hits, punya perangkat elektronik terbaru ataupun eksis dan dikenal dimana-mana. Mampu menghasilkan tulisan yang enak dibaca dan diapresiasi oleh pembaca buat saya adalah defenisi lain dari gaul.

Maka ‘Bergaullah’ agar namamu terancam abadi.

 

5 comments on “Terlambat Gaul”

  1. Ahmad MA says:

    Blum bayar pin inie *mattagih*

  2. Mantap nih, lanjutkan terus tulisannya biar nama ta terancam abadi 😀

  3. saya suka tulisan motivasinya om, inspiratif 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: