Nomaden Manusia Modern

Sejarah mencatat beberapa peninggalan manusia terdahulu, berupa gambar tangan (hand printing) yang sering ditemukan di goa. Konon kabarnya itulah bukti keberadaan manusia purba sekaligus memperlihatkan salah satu kebiasaan mereka yaitu nomaden. Nomaden adalah hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, alasannya adalah kebutuhan makanan. Suatu tempat akan ditinggalkan jika tidak lagi bisa menyiapkan sumber makanan untuk kebutuhan manusia saat itu.

Gaya hidup nomaden yang terpaksa dijalani manusia purba juga disebabkan karena tidak adanya pengetahuan tentang bercocok tanam, sehingga kebutuhan makanan sangat bergantung pada alam. Zaman berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering and hunting period), begitu kira-kira istilah yang pernah saya pelajari tentang sejarah manusia purba di masa sekolah dulu. Manusia purba tidak ada lagi di zaman ini, setidaknya secara harfiah tidak ada. Namun, beberapa perilaku manusia purba ternyata masih dilakoni beberapa manusia modern. Saya salah satunya, di zaman modern serba ada ini, saya mengklaim diri telah menjalani hidup ‘Nomaden’.

Dimulai 9 tahun yang lalu, hijrah ke Makassar untuk menuntut ilmu serta membawa asa dari orang tua bahwa anaknya akan menyandang gelar sarjana untuk pertama kali di keluarga kami. Makassar adalah tempat yang asing bagi saya, kecuali pasar Sentral dan pulau Kayangan yang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya.

Perumahan BTP Blok C No 3xx adalah hunian pertama saya di Makassar. Bapak yang pernah merasakan getirnya hidup sebagai mahasiswa meski tidak menyelesaikan kuliah, tidak mengijinkan saya untuk tinggal di rumah kontrakan ataupun rumah kost. Singkat cerita meski tidak singkat saya jalani, 2 tahun (2006-2008) tinggal bersama tante membuat saya merasakan ada yang kurang. Gejolak jiwa muda yang meminta petualangan bercampur keinginan hidup bebas menentukan langkah, menjadi kegundahan hati yang saya pendam untuk beberapa saat. Dengan memohon kepada bapak, akhirnya kami sepakat untuk membicarakannya dengan tante.

Ada perasaan plong ketika saya diijinkan untuk tinggal bersama teman di rumah kontrakan, saya seperti merasa baru memulai petualangan di Makassar. Hanya berjarak kurang lebih 1 kilometer dari rumah tante, saya dan 4 orang teman mengontrak sebuah rumah di BTP blok G no. 2xx. Selain karena ingin merasakan hidup mandiri, salah satu alasan kepindahan saya adalah kendaraan. 3 tahun pertama di Makassar, ada dua transportasi yang sering saya gunakan ; pete-pete dan nebeng. Tinggal bersama 2 teman sekelas otomatis memudahkan saya untuk urusan bolak-balik kampus.

Di kontrakan inilah saya baru benar-benar merasa menjadi mahasiswa. Bergantung pada uang kiriman orang tua, terkadang dalam sehari makan mie instan tiga kali, eksprimen masak memasak dengan mencampur bahan yang ada dan berujung diare, antri menggunakan toilet sampai merasakan gita cinta anak kuliahan. 1 tahun (2008-2009) lamanya saya menempati rumah tersebut, suka-duka membuat saya merasa benar-benar hidup, meski saya tidak menyangkal beberapa kisah kelam terjadi di periode ini. Astagfirullah.

Masa kontrakan habis, saya dan beberapa teman di rumah sebelumnya sepakat untuk berpisah. Untuk ketiga kalinya saya berpindah, hanya berpindah blok tapi tidak meninggalkan perumahan yang katanya perumahan terbesar di kawasan Indonesia Timur, Bumi Tamalanrea Permai (BTP).

Kali ini bersama 2 calon mahasiswa baru dari kampung, kami menemukan kontrakan yang pas. Pas dengan suasananya terutama pas dengan budget yang ada, 5 juta dengan 3 buah kamar adalah harga termiring yang pernah saya dapatkan. Meski rumah kontrakan ini sebenarnya adalah garasi mobil yang di sekat-sekat menyerupai kamar, tak masalah yang penting ada tempat untuk merebahkan badan ketika lelah mendera juga ketika hati lagi lemah.

BTP Blok M No. xx adalah alamat ketiga saya di Makassar, antara awal 2009 hingga akhir 2010. Mungkin karena saat itu sudah punya kendaraan, saya jarang berada di kontrakan, seringnya hanya pulang tidur dan ganti baju. Saat itu tahun 2009, kuliah sudah mulai memasuki semester akhir, di periode ini saya juga menjalani KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama 3 bulan, bisa dibilang di rumah ketiga ini saya efektif hanya selama kurang lebih 6 bulan.

Tahun 2010 sekitar bulan september, akhirnya gelar sarjana yang saya perjuangkan selama 4 tahun belakangan berakhir dalam sebuah acara wisuda dengan toga di kepala. Perjuangan belum berakhir, di tahun yang sama saya melanjutkan pendidikan profesi Ners. Bertepatan dengan pendidikan profesi ini kontrakan di BTP Blok M juga berakhir, saya memilih hengkang mencari padang rumput yang lebih segar.

Nomaden Manusia Modern 2 ->

One comment on “Nomaden Manusia Modern”

Leave a Reply

%d bloggers like this: