#BatuSekam : Menulis Mengasah Otak

Apa yang membuat keinginan menulis tetap membara? Apakah karena ada ide yang menggenang dalam pikiran? lingkungan yang sesuai? Kisah hidup ataupun kisah cinta yang baru saja di alami? Atau bakat menulis yang mengalir di dalam darah?. Menurut Muhammad Zia Ul Haq, keinginannya untuk menulis yang baru membara sejak bulan Juni 2015 ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Sejak bergabung di kelas menulis Kepo, keinginan menulis yang sudah ada sejak ia masih kuliah di semester 5 seperti menemukan titik terang. Titik terang yang menuntunnya dari alam gelap gulita menuju alam yang terang benderang, hallah.

Titik terang yang ditemukan oleh Ian, nama panggilan yang menurut saya tidak nyambung dengan nama aslinya, Muhammad Zia Ul Haq itu berbentuk kelas menulis Kepo. Kelas menulis yang terbentuk atas keinginan beberapa pemuda dan pemudi yang beberapa diantaranya tidak memiliki dasar menulis. Ian salah satu pemuda itu, dari arsip blog mzuh.wordpress.com terlihat bahwa tulisan ian memang baru dimulai ketika kelas menulis Kepo dibentuk (Juni 2015).

Meski demikian,  dunia penulisan bukan hal yang baru bagi ian. Beberapa tulisan sudah ia hasilkan di tahun 2014 lalu melalui sebuah citizen media di kompasiana.com. Hanya saja menurut Ian, kala itu ia hanya iseng-iseng menuliskan tentang fenomena yang terjadi di sekelilingnya. Hanya dua tulisan yang sempat ia hasilkan di media warga tersebut, kemudian vakum “vakum karena panas-panas tai ayam” menurut Ian yang semangatnya hanya di awal saja.

 

Muhammad Zia Ul Haq

 
Tahun 2010 sebenarnya ia punya kesempatan yang baik jika ingin menulis. Di tahun itu Ian sempat bekerja di sebuah jasa desain web, programing, instalasi jaringan dan pengadaan barang IT. Di tempat itu Ian mengaku sangat dibekali pengetahuan mengutak-atik web dan fasilitas internet yang memadai, sayangnya ia lebih senang menggunakan kesempatan itu untuk bermain game online. Meski fasilitas yang ada sangat memadai, namun atmosfir lingkungan yang ada disekitarnya belum mendukung untuk menulis. Atmosfir saat itu lebih mendukung untuk bermain game online.

Namun kini dengan atmosfir yang mendukung di kelas menulis Kepo, Ian mulai menulis lagi di blognya sekarang mzuh.worpress.com. Tulisan pertama Ian di blognya kini, menuliskan tentang curhatan tentang kekasih hatinya yang memusatkan perhatian kepada kegiatan yang mendaulatnya menjadi sekretaris. Pada tulisan ini Ian menemukan jalan masuk yang baik untuk mereview kegiatan tersebut, menggunakan alasan diduakan oleh acara tersebut, Ian kemudian curhat tentang berkurangnya waktu makan malam mereka berdua karena kesibukan Nunu (pacar Ian) di kegiatan tersebut, kemudian menuliskan pengamatan tentang bagaimana Kegiatan tersebut berlangsung. Gara-gara PKM 2015, saya diduakan!

Sembilan tulisan sudah berhasil Ian tambatkan di blognya kini, sembilan tulisan itu ia tuliskan dengan baik. Ciri khas dari tulisan Ian adalah tulisan yang disertai dengan data atau fakta seputar tulisan tersebut, tidak jarang Ian mengutip kata-kata dari buku atau dari seorang tokoh. Data, fakta ataupun kutipan tersebut, membuat tulisan berkarakter karena tidak hanya berlandaskan opini semata. Tentu ciri khas tulisan Ian tidak di dapat begitu saja, Ian yang bekerja sebagai Akademisi di Universitas Muhammadiyah Makassar suka membaca buku yang berbasis data dan buku tentang pendidikan, seperti buku Paulo Friere tentang “Pendidikan Kaum Tertindas”.

Entah ada hubungannya atau tidak, buku Paulo Friere yang menjadi buku favorit Ian mengiringnya bergabung di suatu komunitas yang konsen terhadap pendidikan anak-anak pedalaman, 1000 Guru. Dari pengalamannya di 1000 Guru juga lah Ian menemukan beberapa ide tulisan yang sempat ia tuliskan di Kompasiana dan blog yang dikelola sekarang.

Hobinya yang suka bertualang dengan mendaki gunung, cukup tersalurkan di komunitas yang ia ikuti itu. Latar belakang pendidikan di S1 Bahasa Inggris dan S2 Bahasa Inggris juga sangat berguna di komunitas itu, 1000 guru memang punya program andalan yaitu Traveling and Teaching, dua hal yang sering mengisi hari-hari Ian. Beberapa tulisan Ian pun tidak jauh dari kedua hal tersebut, bahkan kedua topik itu mendominasi tulisan di blognya.

Hidup itu hampa tanpa karya, tulisan adalah sebuah karya. Kalimat yang menjadi satu dari banyak alasan Ian tertarik untuk menulis, dari menulis Ian merasa mendapatkan manfaat untuk dirinya dan juga kepada orang yang membaca tulisannya. Dengan menulis Ian merasa tertantang untuk terus memperbarui pengetahuannya, MENULIS ITU MENGASAH OTAK.

“Menulis tidak perlu banyak, yang penting tulisan kita bisa dijadikan bahan rujukan bagi sebagian orang, dengan begitu tulisan kita bisa disebut tulisan berkualitas”

~ Muhammad Zia Ul Haq ~

*Tulisan ini sebagai bagian dari tugas di Kelas Menulis Kepo, #BakuSekam (baku tulis Senin Kamis), tugas ini adalah review blog sesama murid Kelas Menulis Kepo dengan menggunakan interval waktu senin – kamis, kamis senin. 

Leave a Reply

%d bloggers like this: