Pengendara Moge Tidak Salah!

 

Elanto menghadang Konvoi Moge

Beberapa hari belakangan, media sosial dihebohkan dengan kejadian seorang pesepeda yang menghalau konvoi motor gede (moge). Rombongan moge ini dianggap melanggar aturan karena terus melewati lampu lintas meski itu lampu merah. 

Kejadian ini kemudian menyebar kemana-mana, semua orang berdecak kagum atas sikap dan keberanian Elanto ; pria yang menghadang rombongan Moge sabtu 15 Agustus 2015 silam. Pujian untuk Elanto, cacian untuk rombongan Moge.

Kepada Elanto, Pujian mengalir bak air bah, tak terbendung. “Seperti ini seharusnya sikap seorang warga negara yang baik”, “salut sama pesepedanya, gak takut sama yang ‘gede’ dan punya uang”. Tentu ini hal wajar, tidak setiap hari kita melihat seseorang dengan berani memperlihatkan hal yang benar, tidak tiap saat kita melihat ada orang yang mau ambil pusing pelanggaran yang terjadi di depan mata. Seringnya kita melihat pelanggaran dengan mata terbuka, memaki dalam hati, tapi mulut terkunci rapi.
Kepada rombongan moge, Cacian jatuh bak hujan deras, bertubi-tubi. “Mentang-mentang mampu beli motor mahal, lalu lintas dilanggar”, “biar tahu rasa tuh si moge, gak belagu di jalanan”, “emang jalanan milik nenek moyangmu? Kita sama-sama bayar pajak, jalanan bukan hanya untuk moge”. Cacian yang dijatuhkan kepada pengendara moge yang tertuduh di mata masyarakat, cacian yang kita anggap lumrah karena sepakat meski tak mufakat.

Kisah Keberanian Elanto pun ramai mewarnai pemberitaan, baik media cetak, online, televisi maupun blog pribadi. Dalam sekali refresh media sosial yang saya punya, berita tentang Elanto dan Moge tidak jarang menghiasi. Salah satu teman saya sudah menuliskan ulasan lengkap tentang kejadian ini, Elanto, Konvoi dan Lalu Lintas Kita.

Kejadian ini kemudian membuat banyak orang latah, memberikan pembenaran terhadap apa yang dilakukan oleh Elanto. Kejadian ini pun membuat UU No. 22 Tahun 2009 tenar, tiba-tiba saja UU ini banyak dicari dan dibaca. UU yang mungkin bagi sebagian orang bahkan tidak tahu ada aturan yang mengatur hal seperti itu. Kejadian ini membawa hal positif lagi, banyak yang belajar undang-undang. Termasuk saya.

Namun ada makna yang kita lupakan dalam kejadian ini, makna yang tidak terlihat karena kita melihat kejadian ini dengan zoom in. Hinggan yang terlihat hanyalah keberanian Elanto dan kesalahan pengendara moge. Mari kita mencoba melihat kejadian ini dari pandangan zoom out, agar kita bisa mengambil makna dalam lingkup yang luas.

Inti dari kejadian ini bukanlah tentang pesepeda dan moge, tapi lebih kepada pelanggaran lalu lintas. Apakah hanya moge yang melanggar lalu lintas? Apakah karena moge itu body dan suaranya besar hingga mendapat perhatian besar juga ketika melanggar lalu lintas? Apakah pelanggaran hanya dilakukan oleh rombongan? Bagaimana dengan kita?

Dalam kehidupan sehari-hari, meski menggunakan motor kecil banyak dari kita termasuk “pengendara moge”. Elanto tidak hanya menghalang pengendara moge, tapi juga menyindir kita semua yang masa bodoh dengan aturan. Tidak usah berkelik dengan berpikir tidak pernah menerobos lampu merah, aturan lalu lintas bukan cuman itu.

Menghakimi pengendara moge yang menerobos lampu merah, tidak lantas membuat kita bersih dalam pelanggaran lalu lintas. Mari ambil contoh yang sederhana. Berapa kali kita menyetop kendaraan di atas zebra cross? Berapa kali kita harus melawan arus karena memutar memerlukan waktu yang lebih lama? Berapa kali kita tidak memakai helm karena alasan “ah dekat kok”? Berapa kali kita melawan arus hanya karena jalanan sebelah lebih plong?

 

Melewati Zebra Cross

Saya pernah mendapati beberapa pengendara motor bukan lagi menginjak zebra cross, tapi melewati garis yang diperuntukkan untuk pejalan kaki menyeberang itu. Alasannya sepele, di depan zebra cross ada bayangan baliho yang bisa dimaanfaatkan berteduh. Berteduh dari panas matahari yang menyengat, meski itu berarti melewati lampu lalu lintas. Memang tidak menerobos hanya melampaui. Padahal jika kita mencermati semua pasal di UU No.22 Tahun 2009, beberapa pasal menyebutkan tentang fungsi zebra cross dan lampu lalu lintas, berikut denda jika melakukan pelanggaran.

 

Melawan Arah (poc : @iwankong)

Tidak jarang saya mendapati pengendara motor berani melawan arus, mengambil jalur jalanan sebelah layaknya contra flow tapi tanpa pengawalan. Jalanan sebelah yang lebih leluasa serta banyak pengendara yang melakukan pelanggaran, membuat kita ikut-ikutan. Terkadang kita cukup skeptis  terhadap fenomena seperti itu, berani karena banyak.

Saya pun pernah melanggar lalu lintas, hanya karena yang lain juga menerobos lampu lalu lintas. Keadaan jalanan yang cukup sepi dan tidak ada kendaraan dari arah lain melintas, alasan saya menerobos lampu lalu lintas. Pernah sekali mencoba bertahan di lampu lintas yang sepi, saya seperti di hujani klakson dari pengendara mobil yang ada di belakang saya. Klakson yang jika diterjemahkan bisa berarti “maju, maju saja, tidak ada kendaraan yang lewat kok, sepi”. Jengkel dengan suara klakson yang tidak berirama, saya pun maju menerobos lampu lintas yang masih merah di jalanan yang sepi. Siapa yang salah? Pengendara mobil dengan klakson yang besar? Atau saya yang tidak kuat imamnya menunggu lampu lintas berubah menjadi warna hijau?

Melihat kejadian Elanto dan pengendara moge dengan kacamata yang lebih luas, menyadarkan kita bahwa kita semua bisa saja menjadi “pengendara moge”.

Pengendara moge tidak salah atau kata yang lebih tepat, bukan hanya pengendara moge yang salah. Kita semua yang melakukan pelanggaran lalu lintas sekecil apapun itu, tidak ada bedanya dengan pengendara moge yang menerobos lalu lintas. Mari bijak dalam berlalu lintas, ciptakan kenyamanan di jalanan dan jadilah pelopor keselamatan dalam berlalu lintas, ceklik!

Semoga setelah kejadian ini, tidak ada aksi balasan moge menghadang rombongan pesepeda.

Leave a Reply

%d bloggers like this: