Sebelum Marah-marah di UGD, Kamu Harus Tahu Ini.

Bekerja di Unit Gawat Darurat (UGD) berarti siap-siap bekerja dengan segala tekanan yang ada. UGD adalah ruangan yang memiliki tekanan pekerjaan yang tinggi dibanding ruangan lainnya. Bukan hanya berhadapan dengan pasien yang beragam dan gawat, petugas kesehatan juga mesti berhadapan dengan keluarga pasien. Kedatangan pasien di UGD tidak bisa ditebak waktu dan jumlahnya, sehingga petugas UGD harus siap tiap saat.

Kadang terdengar komentar negatif kepada petugas kesehatan, khususnya yang bekerja di UGD bahwa mereka tidak peka, cuek, lamban. Harapan pasien datang di UGD tentu ingin mendapatkan pelayanan yang cepat, namun terkadang tidak demikian.

Unit Gawat Darurat (UGD) adalah ruang pertama yang dituju pasien ketika mendapatkan masalah-masalah kesehatan, namun yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang adalah sistem kerja di UGD. Sistem kerja di UGD bukanlah “First In, First Out”, bukan pula sistem antrian, yang pertama datang yang mendapat pelayanan pertama.

Seorang bapak tiba-tiba marah di ruang UGD karena merasa anaknya yang sakit diabaikan, sementara pasien yang baru saja masuk langsung mendapatkan penanganan. “kenapa yang baru masuk langsung ditangani?, sementara anakku hanya ditanya-tanya kemudian ditinggal!”. Bapak ini membawa anaknya masuk dengan keluhan demam tinggi beberapa jam lalu, sementara pasien yang baru masuk mengeluh sesak napas, nampak dari caranya mengambil napas yang dalam. Sistem kerja UGD akan mengutamakan pertolongan kepada pasien yang kedua, sementara pasien pertama tadi dilakukan observasi dan persiapan untuk penanganannya. Sistem ini disebut triage (baca : triase).

Apa itu TRIAGE?

“triage is the process of determining the priority of patients’ treatments based on the severity of their condition”. Sederhananya begini, triage adalah penentuan prioritas pasien, dalam proses triage akan ditentukan pasien mana yang harus mendapatkan pertolongan segera/pertama sesuai dengan kondisinya. Penentuan ini berdasarkan pengkajian awal petugas kesehatan terhadap pasien, kondisi yang dapat mengancam nyawa pasien atau paling tidak beresiko menimbulkan kecacatan atau komplikasi lanjut, harus segera mendapatkan pertolongan.

Ketika UGD kedatangan banyak pasien dalam waktu bersamaan, triage yang menentukan pasien yang akan diberi pertolongan segera. Bahkan pada saat sepi pun, triage tetap digunakan untuk menentukan waiting time pasien sesuai kondisinya.  Untuk membantu proses triage digunakan pelabelan warna sesuai dengan kondisinya, merah, kuning dan hijau. Beberapa rumah sakit bisa kita jumpai jalur triage dengan jelas pada lantainya, ada juga yang memodifikasi misal dengan gelang berwarna dan tidak jarang kita tidak menjumpai tanda apapun terkait dengan triage.

Triage Tape

Triage Tape

Pelabelan warna akan memudahkan penilaian kepada pasien yang membutuhkan pertolongan segera. Pasien dengan label warna merah berarti pasien gawat darurat, membutuhkan pertolongan segera dan tidak dapat ditunda. Pasien dengan label warna kuning berarti pasien darurat, membutuhkan pertolongan namun dapat ditunda. Pasien dengan lebal warna hijau berarti pasien gawat, membutuhkan pertolongan minimal dan dapat ditunda. Mari mengambil contoh untuk patah tulang (fraktur) : patah tulang leher berarti label merah, patah tulang pada kaki atau tangan berarti label kuning, patah tulang jari berarti label hijau.

Pada patah tulang leher diberi label warna merah karena patah tersebut akan mengganggu kepatenan jalan napas, bisa mengancam nyawa pasien jika tidak mendapatkan pertolongan segera. Patah tulang pada kaki atau tangan diberi label kuning, karena terputusnya tulang pada anggota tubuh yang mengakibatkan nyeri yang sangat hebat dan mengganggu pergerakan, tapi tidak membahayakan nyawa. Patah tulang jari diberi label warna hijau karena tidak membahayakan nyawa dan tergolong minor. Adapun jika menemukan label warna hitam berarti pasien sudah meninggal atau tidak dapat tertolong lagi.

Pernah sekali kejadian ketika saya tugas jaga di UGD RSUD Labuang Baji, seorang anak usia belasan tahun meronta-ronta, ngamuk, dan berteriak keras “kenapaki ndak tolong bapakku kodong, tolong bapakku jangan berdiri saja, kenapaki diam saja“. Bapak anak ini masuk UGD dengan luka tusukan di beberapa tempat, termasuk paru-paru.  Tidak ditemukan adanya tanda-tanda vital, tidak ada denyut nadi, tidak ada respon pupil, tidak ada pengembangan dada, tidak ada suara napas. Tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan. Bapak ini termasuk dalam label warna hitam.

Proses triage juga digunakan pada penanganan korban bencana alam atau pada kecelakaan massal yang melibatkan banyak korban. Proses triase bisa meminimalkan korban meninggal dengan melihat tingkat kegawatdaruratan korban atau peluang hidup. Korban-korban dengan label warna merah akan diberi pertolongan pertama dengan segera sedangkan korban dengan label warna hitam akan ditangani paling akhir.

triage bencana/kecelakaan

triage bencana/kecelakaan

– – – – –

Proses triage pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syekh Yusuf Kabupaten Gowa dilakukan dengan warna pada status pasien. “UGD di sini terbagi dua, di depan ketka pasien baru tiba adalah ruang triage, ada satu perawat yang bertugas melakukan pengkajian awal, kemudian menentukan tingkat kebutuhannya dengan menggunakan status pasien yang berwarna” Ungkap Thamrin selaku perawat penanggung Jawab Ruang UGD.

Triage di RSUD Syekh Yusuf

Triage di RSUD Syekh Yusuf

“Ada beberapa keluarga pasien yang kadang tidak sabar untuk dirawat, karena nakira duluanki datang, langsung juga mau dirawat, padahal kan haruski utamakan yang darurat dulu” Lanjut Thamrin.

Penilaian triage pada RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa difokuskan ke pengkajian jalan napas, bisa terlihat di papan alur triage yang menekankan pada kebutuhan resusitasi pasien. Resusitasi berarti mengembalikan jalan napas pasien yang terganggu. Pasien yang mengalami masalah pada pernapasan menjadi prioritas utama, agar banyak nyawa yang dapat tertolong. Pada intinya adalah menyelamatkan banyak nyawa, meski kemudian triage berkembang dengan banyak spesifikasi kebutuhan pasien.

Alur Triage

Alur Triage

Dengan mengetahui prinsip kerja triage, kita dapat lebih maklum. Tidak perlu marah-marah ataupun membentak petugas kesehatan di UGD, memaki mereka lamban, cuek dan tidak peka. Petugas kesehatan juga harus memberikan pemahaman kepada pasien ataupun keluarga pasien, sehingga tidak perlu terjadi kesalahpahaman. Tidak salah jika dikatakan peningkatan pelayanan kesehatan adalah sinergitas yang baik antara petugas kesehatan dan masyarakat.

——-

Tentu saja untuk menghindari pasien atau keluarga pasien yang “marah-marah” di UGD, petugas kesehatan perlu menjelaskan dengan baik dan sabar tentang sistem kerja tersebut. Pemahaman serta penguasan konsep Triage petugas kesehatan juga menjadi salah satu faktor kesuksesan berjalannya Triage.

***

Kunjungi Channel Youtube saya 

28 comments on “Sebelum Marah-marah di UGD, Kamu Harus Tahu Ini.”

  1. Ayu Frani says:

    Terima Kasih atas artikelnya, sangat menarik dan mendidik. Terima kasih sudah bersedia membagi pengalaman ya..jempol.

    1. ardianadw says:

      Terima kasih sudah mampir.

  2. rahe says:

    terima kasih sudah berbagi, sehingga bisa kami memahami

    1. ardianadw says:

      Terima kasih sudah mampir.

  3. anelies says:

    Trims artikelnyaa,bermanfaat banget!

    1. ardianadw says:

      Terima kasih sudah membaca kak 🙂

  4. iphie says:

    Top d penjelasan tntang triasenya hehehe

    1. ardianadw says:

      Makasih, makasih sudah baca dan komen, mampirlah kapan2?

  5. ardianadw says:

    Siap Ners, lanjutkan!

  6. Atviana says:

    memberi pemahaman baru. suka nonton greys anatomy tp nggak tau soal ini. hehehe..
    terimakasih..

    1. ardianadw says:

      Iya mbak, sekarang banyak film korea tentang dunia medis, coba nonton Yong Pal, episode 1 sangat mempelihatkan tentang Triase.

      1. Atviana says:

        film korea nggak seajib drama amerika kalau soal ER. masih beda levelnya 😀

        1. ardianadw says:

          Iya sih emang beda, tapi paling tidak untuk dapat gambaran jelas ttg triage misalnya. Malah saya belum nonton grey anatomi. Hehehe

          1. Atviana says:

            nonton deh, lebih berasa emergency nya. saya sering liat tp baru ngeh kalau ternyata ada skala prioritas di UGD. hehehe.. Season2 lama selalu menang award. skrg2 aja udah nggak terlalu menarik. *udah nggak ngikutin lagi setelah Dr. Yang cabut. *malah ngomongin drama. bytheway salam kenal 😀

          2. ardianadw says:

            Siap mbak, nanttilah kalau dapat film baru nonton. Memang mbaknya orang kesehatan juga yah? Kok suka nonton film2 itu?

            Iya salam kenal dari Makassar :))

          3. Atviana says:

            nggak, saya orang air. saya cuma kebetulan suka Greys Anatomy. hehe..

  7. Pardamean Situmorang says:

    Salut untuk para medis di setiap UGD, pekerjaan mulia pasti berkenan dihadapan Tuhan dan amat berarti untuk sesama manusia.

  8. wahyu says:

    andaikan semua orang merasakan menjadi petugas kesehatan,,

    1. Ardian says:

      nanti yang jadi pasien siapa dong? hihi

  9. Gie says:

    Terimakasih tentang artikelnya..
    Sekarang saya lebih paham tentang triage di UGD

  10. Gie says:

    Terimakasih tentang artikelnya..
    Sekarang saya lebih paham tentang cara penanganan pasien di UGD

    1. Ardian says:

      alhamdulillah kalau bisa lebih paham

  11. Diah says:

    Baru tahu Ini, terimakasih sharingnya. 🙂
    Semangat berjaga.

  12. Diah says:

    Yeayy, jadi tahu sekarang. Makasih sharing nya.
    Semangat jaga 🙂

    1. Ardian says:

      iya sama-sama, terima kasih sudah mampir

  13. widya astuty says:

    Saya bekerja 12 tahun digarda terdepan RS saya tahu tanpa klrg px bertanya akn respon kebingungan mengenai pelayanan IGD yg tidak ada istilah dilayani segera sesuai urutan datang dan tanpa henti saya mnjelaskn bahwa sistem pelayanan IGD beda dgn unit lainny

    1. Ardian says:

      iya memang perlu dijelaskan dengan mudah tentang alur pelayanan UGD ke orang awam

Leave a Reply

%d bloggers like this: