Film “Dilarang Masuk” Parade Make-Up Hantu

 

Film-Dilarang-Masuk..-2016

Pernahkah kamu memiliki perasaan seperti mengulang sebuah kejadian, padahal kejadian tersebut baru saja dialami? Mungkin karena kesamaan tempat atau kemiripan peristiwa, biasanya sih disebut Dejavu. Kesan pertama saya ketika menonton film “Dilarang Masuk” yaitu itu tadi, Dejavu. Saya seperti diperlihatkan rentetan gambar yang sama, hanya saja dengan orang, lokasi yang berbeda. Entah itu dari kemunculan hantu, alur cerita, bahkan akhir cerita. Tidak ada scene yang membuatnya berbeda dari film horor indonesia pada umumnya, kalau ibarat lagu itu lagu lama album baru.

Pernah saya membaca sebuah artikel tentang tekhnik penokohan dalam sebuah film, untuk menguatkan tokoh utama selalu dihadirkan tokoh lain yang lebih lemah atau lebih kuat. Misal di film Harry Potter, kehadiran Ron Weasley yang bisa dibilang cupu, pengetahuan rata-rata, keadaan ekonomi pas-pasan ternyata secara tidak langsung mengangkat kekuatan Harry Potter yang dari segala sisi berada di atas Ron Weasley. Begitu juga dengan kehadiran Hermione Ginger yang lebih pintar secara akademik dari Harry Potter, tapi mampu menguatkan sisi lain Harry Potter yaitu Insting dalam bertindak. Tentu saja secara tidak sadar perhatian penonton akan tersedot ke arah Harry Potter.

Dalam film besutan Nayato  yang berjudul “Dilarang Masuk” ini, ada beberapa tokoh yang (mungkin) memiliki peran seperti Ron Weasley dan Hermione Ginger. Adit (diperankan oleh Maxime Bouttier) adalah tokoh utama dalam film ini, juga sebagai “pemimpin” dalam sebuah kelompok siswa di sebuah sekolah, kemudian ada Piyu (yang diperankan oleh Jordy Onsu) dan Bang Jono (oleh Reymond Knuliq) yang sepanjang film tampil dengan konyol dan kocak. Namun ternyata, kekonyolan dan kekocakan Piyu dan Bang Jono bukannya malah menguatkan karakter Adit, justru malah mereka berdua yang mencuri perhatian saya. Karakter Adit seperti tenggelam, tidak ada karakter kuat yang dimiliki, kecuali kesibukannya dengan handycam yang tidak pernah lepas dari tangannya.

Film ini bergenre horor atau seharusnya bergenre horor, kalau tidak dibantu oleh sound yang tiba-tiba saja mengagetkan, mungkin saya tidak akan pernah terkejut oleh kemunculan hantu-hantu dalam film ini.  Kemunculan hantu dalam film ini, terlalu sering dan gampang ketebak. Beda dengan hati perempuan yang susah ditebak. Malah saya menganggap film ini sebenarnya adalah PARADE make-up hantu, karena seringnya hantu muncul dalam sebuah scene dengan make up seremnya.

Ada satu hal lagi yang sangat mengganggu bagi saya, yaitu perpindahan scene yang agak kasar. Masih halus perpindahan slide presentasi mahasiswa semester III.

Kesimpulannya sih, film ini bukan film yang bisa membuat saya menahan hasrat buang air kecil. Bukan film yang membuat saya tidak ingin kehilangan satupun peristiwa, bukan film yang mampu mengalihkan perhatian dari smartphone saya.

Namun, saya tetap harus berterima kasih sudah diajak nonton gratis bersama beberapa pemeran film ini. Juga terima kasih untuk Bang Jono yang sudah memberikan jatah popcorn-nya (kebetulan saya duduk dekat para pemeran yang hadir, hehe)

nobar dilarang masuk

 

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: