Berpesta di Pesta Komunitas Makassar 2016

Saya salah satu orang yang ternyata tidak bisa melepaskan diri dari Pesta Komunitas Makassar (PKM). Tiga kali digelar, tiga kali pula saya menghabiskan waktu di PKM. Ketika PKM pertama digelar pada tahun 2014, saya masih ingat sekali tanggung jawab yang diberikan kepada saya sebagai salah satu panitia, SEKSI KONSUMSI. Kemudian pada tahun kedua, saya dipercaya sama Kak Lelaki Bugis (Lebug) menyetir salah satu sosial media PKM, melaporkan secara langsung aktivitas dan kegiatan yang sedang berlangsung. Meski di tahun 2016 ini, saya betul-betul tidak terlibat lagi dalam kepanitiaan, tapi tetap saja saya menghabiskan seharian waktu saya di hari minggu (hari kedua) di pesta itu.

Setelah hari pertama (sabtu, 21 Mei 2016) tidak sempat datang ke PKM, saya memutuskan berangkat lebih awal ke PKM di hari minggu. Saya tidak ingin ketinggalan momen-momen seru, tak ingin pula menikmatinya melalui cerita orang-orang. Saya ingin merasakannya sendiri.

Minggu, 22 Mei 2016. Sekira pukul 10 pagi, saya meninggalkan rumah yang ada di daerah Tamalanrea. Jalan raya masih sepi dari lalu-lalang kendaraan, mungkin karena hari minggu dan saya keluarnya kepagian (bagi beberapa orang, beraktivitas pada pukul 10 di hari minggu itu kepagian). Saya memacu motor ke arah barat, menuju salah satu public space Kota Makassar, Pantai Losari. Hanya membutuhkan waktu kurang dari 45 menit saya tiba di jalan penghibur, tempat Pantai Losari berada, lokasi pelaksanaan PKM 2016.

Setelah memarkir kendaraan di depan Rumah Sakit Stella Maris yang kebetulan berhadapan dengan pantai losari, saya langsung menuju lokasi pelaksanaan PKM. Dari luar terlihat banyak tenda-tenda kerucut warna putih berjejer, berbaris rapi dari selatan ke utara di dalam pagar besi. Lokasi PKM sepertinya sengaja dipagari, agar semua orang yang akan masuk harus melewati satu-satunya gerbang yang disiapkan. Gerbang PKM berbentuk segitiga layaknya atap rumah yang lazim digunakan di rumah panggung khas suku Bugis-Makassar. Bedanya hanya di material yang digunakan untuk menutupi gerbang serupa atap itu, mereka memakai daun nipah kering yang berwarna kecoklatan.

Setelah melewati gerbang masuk, mata kita langsung menangkap puluhan tenda kerucut di kiri dan kanan. Tenda yang saling berhadapan membentuk jalan selebar tiga meter yang merupakan jalan satu-satunya menuju lokasi penggung, hal ini secara tidak langsung membuat pengunjung mau tidak mau melewati puluhan booth komunitas yang telah mengisi tenda-tenda tersebut. Dengan begitu, pengunjung dapat mengetahui komunitas apa saja yang ada di PKM, serta penggiat komunitas bisa langsung berinteraksi dan memperkenalkan komunitasnya. Kreatif juga menurut saya.

Panggung komunitas berada di bagian barat, tepat di depan tulisan Pantai Losari menghadap ke timur. Panggung yang megah dengan backdrop logo PKM 2016 berupa dua ayam berwarna-warni saling membelakangi, diikuti tagline kreativitas tanpa batas. Sebelah kiri depan panggung terdapat beberapa puluhan komunitas, agak terpisah dengan booth komunitas di jalan masuk tadi. Di sebelah kanan depan sekitar 50 meter, terdapat belasan tenda yang menyediakan makan dan minum serta menjual baju kaos khas makassar.

Suasana PKM siang hari

Suasana PKM siang hari

Setelah cukup berkeliling, saya memilih bernaung di bawah pohon yang ada di anjungan Pantai Losari. Sinar matahari jam 11 cukup menyengat dan mengeluarkan bulir-bulir keringat. Namun sengatan matahari tidak menyurutkan semangat dua orang dari komunitas pecinta alam, mereka memanjat salah satu tiang lampu besar yang ada di Pantai Losari. Menggunakan tali, mereka menaiki tiang lampu yang saya taksir sepanjang 10 meter menjulang ke langit, mereka hendak mengibarkan bendera Merah Putih di ujung tiang itu.

Seiring matahari mulai meredup pengunjung pun mulai membludak ,sebagian besar terfokus ke panggung. Pengunjung yang fokus di panggung bisa mengikuti kuis atau games berhadiah dari MC, kemudian disuguhi penampilan atraktif dari anak-anak komunitas Yoyo, secara bersamaan di depan panggung, pegiat dari komunitas rubik memperlihatkan keahlian mereka menyusun rubik dengan mata tertutup dan berpasangan, kemudian pengunjung disentak gerakan dance oleh tiga perempuan yang berpakaian ala-ala Jepang, selintas mirip-mirip JKT48. Sore itu ditutup dengan lompatan-lompatan ekstrim dari anak parkour, depan panggung riuh oleh tepuk tangan maupun decak kagum melihat anak-anak parkour loncat ke sana ke mari.

Panggung Komunitas di sore hari

Panggung Komunitas di sore hari

Keramaian ternyata tidak hanya terfokus di panggung, ratusan orang juga memadati booth-booth komunitas. Komunitas pecinta hewan paling banyak menarik perhatian, pengunjung ternyata sangat tertarik melihat hewan-hewan yang ada, mulai dari ular, iguana, sugar glider, kelinci sampai burung hantu. Tak pelak ajakan selfie atau berfoto dengan hewan-hewan itu tak dapat dihindari. Tidak sedikit juga orang yang tertarik dengan komunitas cosplay, mereka yang berdandan layaknya tokoh kartun atau anime menjadi incaran objek foto oleh pengunjung.

Sinar keemasan matahari terbenam di Pantai Losari mengantar keriuhan pesta komunitas sore itu. Gelap mulai merayapi tiap sudut ruang yang ada, lampu-lampu mulai berpijar mengusir gelap ke sudut-sudut yang tidak terjangkau penanda malam telah tiba. Bukannya berkurang, malam hari justru lebih ramai lagi. Kalau tadi siang saya bebas melenggang kemana-mana, kini harus bersusah payah menemukan celah di antara pengunjung untuk menembus jalan. Terutama jika berjalan di depan booth komunitas yang ada di mulut gerbang masuk.

Panggung komunitas mulai bergema, dipadati ratusan manusia layaknya laron yang mengelilingi cahaya. Berlompat-lompat diiringi hentakan nada, bergoyang diiringi alunan musik yang memecah malam. Di booth komunitas pun tak kalah ramai, para pengunjung silih berganti berfoto dengan hewan, ada juga yang takut dan jijik. Anak-anak cosplay juga kewalahan menerima permintaan berfoto dari pengunjung. Di sudut lain ada yang sibuk bersepatu roda, ada juga yang memilih santai duduk di pinggiran. Perhatian pengunjung sempat teralihkan ketika secara bersamaan belasan drone terbang, suara mendengungnya mirip lebah, bercahaya mirip kunang-kunang menghiasi langit malam sambil merekam aktivitas yang ada di bawahnya. Belum lagi kepadatan di food corner, beberapa orang harus rela menghabiskan makanan sambil berdiri. Maroa’ Na Sengkang kalau orang di kampungku bilang.

Pesta Komunitas di Malam Hari

Pesta Komunitas di Malam Hari

Saya sendiri lebih memilih duduk santai di pinggiran, sambil mengamati semua akltivitas yang bisa ditangkap oleh mata. Lagian entah kenapa saya merasa seperti DeJavu, penampil acara di panggung komunitas adalah ulangan dari tahun lalu, tidak jauh berbeda. Saya jadi malas bergerak menuju panggung, lantas sudah terlalu banyak orang di sana. Saya malas berkeliling booth, karena agak gerah dengan cuaca dan keriuhan ini. Saya lebih memilih duduk dan mengamati. Terkadang saya harus berdiri sejenak untuk melihat lebih jelas aktivitas yang ada, berpaling kanan-kiri, memicingkan mata sambil sekali-kali mengambil gambar. Too much activity, begitu pikir saya. Memang iya pengunjung PKM tahun ini melebihi jumlah pengunjung tahun lalu, padahal tahun lalu juga sudah cukup ramai. Namun….

Setelah seharian berada di lokasi PKM, ada beberapa catatan bagi saya pribadi. Mungkin ini bisa jadi masukan untuk evaluasi kegiatan, agar pelaksanaan PKM selanjutnya bisa lebih baik.

Lokasi yang luas membuat pengaturan booth komunitas tersebar, terpencar dan seperti tidak menyatu. Pengaturan booth yang terlalu random juga membuat beberapa komunitas tidak nyaman, seperti pengakuan salah seorang teman “kasian itu komunitas edukasi yang mengajak pengunjung membaca, dekat sekali dengan komunitas suporter bola yang ribut, tidak konsenki orang membaca”. Terlalu banyak aktivitas di malam hari, sehingga fokus perhatian tidak lagi ke panggung.

Saya membayangkan pengaturan booth komunitas lebih rapi, panggung menjadi center yang dikelilingi oleh booth komunitas. Baik pegiat maupun pengunjung bisa menikmati performance di panggung di tempat mereka berdiri. Akan lebih rapi lagi jika pengaturan booth memakai kategori, misalnya di sebelah selatan adalah kategori komunitas sosial dan edukasi, sebelah utara komunitas travelling dan hobi, sebelah timur komunitas pecinta hewan dan cosplay. Dengan begitu, panitia sisa memberi petunjuk arah di jalan masuk dan pengunjung bisa memilih mereka akan menuju kategori yang sesuai minat. Komunitas yang butuh sedikit ketenangan juga tidak akan merasa terganggu.

Terlepas dari itu apresiasi yang sangat besar saya tujukan kepada panitia PKM 2016, sungguh tidak mudah menjadi bagian dari acara sebesar ini. Apalagi dengan persiapan berbulan-bulan, mengumpulkan 280 komunitas, belum lagi mengurusi jodoh eh mengurusi pekerjaan pribadi. Salut dengan panitia yang mampu mengumpulkan ratusan komunitas di satu tempat, berkumpul dengan masing-masing keunikan dan kreatifitasnya. Menjadi satu untuk memperlihatkan citra yang baik Kota Makassar kepada dunia.
*tulisan ini diikutkan pada lomba yang diadakan oleh komunitasmakassar.org

Leave a Reply

%d bloggers like this: