Ampas #Ngopi2016 Mojokerto

 

“Apa sih yang kalian lakukan di sini? Kenapa kalian datang jauh-jauh? Mengeluarkan biaya, meluangkan waktu dan menghabiskan tenaga, apa yang kalian harapkan?” begitu kira-kira kata Kang Danang saat memulai obrolan pada acara Ngopi 2016 di Pacet, Mojokerto. Pertanyaan yang kemudian saya bawa pulang dan bingung bagaimana harus menjawabnya.

—–

Ngopi adalah acara yang dilaksanakan dengan tujuan mempertemukan pejuang nasi dari seluruh nusantara, mempertemukan orang-orang yang berbeda daerah namun memiliki tujuan yang sama :  berbagi. Tahun 2016 ini adalah kali ketiga pelaksanaan Ngopi, sebelumnya pada tahun 2014 dilaksanakan di Jakarta oleh Berbagi Nasi Jakarta, tahun 2015 dilaksanakan di Kudus oleh Berbagi Nasi Kudus, dan tahun ini (2016) kesempatan Berbagi Nasi Mojokerto menjadi tuan rumah. Meski begitu, saya dan teman-teman dari Berbagi Nasi Makassar baru bisa ikut pada kegiatan Ngopi tahun 2016 ini.

Saya, Anchu, Kiky dan Ria mewakili berbagi nasi Makassar kemudian berangkat ke Mojokerto pada jumat malam (2/8/2016). Kami dijemput oleh Kikik salah satu panitia dan pejuang nasi Mojokerto di Bandara Juanda Surabaya. Kikik adalah orang Gresik namun ikut aktif di berbagi nasi Mojokerto, malam itu setelah dijemput di bandara, kami menghabiskan malam dan mengistirahatkan tubuh di rumah Kikik setelah menempuh perjalanan kurang lebih sejam dari Surabaya.

Kami dari Berbagi Nasi Makassar di acara Ngopi 2016

Kami dari Berbagi Nasi Makassar di acara Ngopi 2016

Dari rumah Kikik di Gresik, kami melanjutkan perjalanan ke Mojokerto keesokan harinya. Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai kota yang menyimpan banyak cerita tentang Kerajaan Majapahit itu. Kesan pertama ketika berada di Kota Mojokerto adalah tenang, jalan raya cukup lengang, tidak banyak kendaraan yang lalu lalang, tidak terlihat orang yang dikejar kesibukan. Cukup beda dengan apa yang saya rasakan dan saksikan di Makassar.

Di Mojokerto kami kemudian berhenti di sebuah tempat bernama Angkringan Kopinspirasi, di tempat ini sudah berkumpul pejuang nasi dari berbagai penjuru nusantara yang tiba duluan dari kami. Ketika kami menghampiri tempat berkumpul itu, beberapa wajah tidak asing bagi saya, Kang Danang, Kang Burhan, Tedy, Anton, mereka adalah pejuang yang memang pernah ketemu sebelumnya. Juga ada beberapa orang yang sudah kenal sebelumnya melalui chat namun baru bertemu kali ini, seperti Mbak Mery, Cece, dan Mas Widhi. Puluhan lainnya memang baru kali ini bersua dan mengobrol. Meski begitu perkenalan tak terelakkan, kami berkenalan dan menyebutkan asal kota masing-masing, sesekali melepaskan tawa. Sungguh pertemuan yang menyenangkan.

Dari angkringan kami kemudian menuju tempat pelaksanaan Ngopi di Kawasan Wisata Pacet, butuh waktu sekitar 50 menit untuk mencapai villa yang telah dipesan sebelumnya oleh panitia. Villa Damar Sewu namanya, villa yang dibangun bertingkat-tingkat mengikuti kondisi geografis perbukitan di daerah itu. Setidaknya villa ini bisa dibagi empat tingkat, tiap tingkat ada beberapa kamar yang diisi oleh 4-5 orang, pada tingkat ke empat terdapat sebuah ruangan yang luasnya kira-kira 10×5 meter. Ruangan inilah yang dipakai sebagai tempat pemusatan Ngopi, ditandai dengan backdrop besar yang menutupi dinding sebelah kiri.

Setelah registrasi dan mendapatkan kamar, kami kemudian bersantap siang dengan makanan yang telah disiapkan oleh panitia. Tidak lama berselang setelah perjamuan makan siang selesai, panitia meminta semua pejuang nasi menuju tingkat empat untuk berkumpul. Sesuai rundown yang telah disusun oleh panitia, pukul 13.30 adalah pembukaan acara dan sambutan oleh tiap regional yang hadir. Pada acara ini setidaknya ada 24 perwakilan regional berbagi nasi dari seluruh penjuru nusantara.

Beberapa bendera berbagi nasi dari berbagai daerah

Beberapa bendera berbagi nasi dari berbagai daerah

Kegiatan ngopi berlangsung selama dua hari, tanggal 3-4 September 2016. Selama dua hari beberapa kegiatan berlangsung seperti pembukaan, kenalan dengan regional lain, games, berbagi bersama adik-adik panti asuhan Villa Durian, sulap, materi oleh Kang Danang, bakar jagung, menyalakan dan melepas lampion, api unggun dan nyanyi bareng. Pada malam terakhir semua larut dalam sejuknya malam, menyatu oleh alunan gitar dan goyangan mengikuti nada. Lampion menghias langit bak bintang yang begitu dekat, alunan nada dari petikan gitar menambah lezat jagung bakar yang masih hangat. Obrolan antar pejuang berlangsung hikmat, berbagai topik dilumat habis dalam semalam.

Namun tetap saja ada yang kurang.

Harapan pertama saya ketika memutuskan ikut Ngopi adalah ingin mendengar banyak kisah dari berbagai pejuang nasi di setiap daerahnya, pertukaran informasi antara para pejuang tentang bagaimana mereka melaksanakan kegiatannya. Sayapun membawa banyak cerita dari Makassar, cerita yang ingin saya bagikan ke teman-teman pejuang nasi lainnya.

Sayangnya, hal ini tidak terakomodir. Iya sih saya sempat ngobrol dengan beberapa pejuang nasi regional lain. Namun itu terjadi di luar dari acara resmi, palingan ngobrol di sela-sela menunggu acara selanjutnya itupun hanya bercerita lepas. Padahal di rundown acara yang dibagikan panitia sebenarnya ada acara sharing, yang menurut pengertian saya itu adalah waktunya teman-teman dari berbagai daerah menceritakan kisah yang mereka telah lalui.

Intinya tidak ada forum yang disiapkan untuk berbagi kisah antara regional, saya sempat berpikir mungkin memang seperti inilah yang namanya Ngopi, maklum sebelumnya saya tidak pernah ikut. Padahal menurut saya ada waktu yang bisa dipakai untuk sharing antara regional, ketika acara api unggun misalnya. Baiknya jika panitia mengarahkan semua peserta melingkari api unggun yang ada, kemudian secara bergantian bercerita tentang kegiatan mereka di daerah masing-masing. Setelah itu melepaskan lampion, barbeque-an, nyanyi dan joget bareng.

Dikerjai tapi tetap asik

Dikerjai tapi tetap asik

Kesulitan berkomunikasi juga saya rasakan ketika berusaha membaur dengan pejuang asal pulau Jawa, soalnya mereka tetap menggunakan bahasa daerah mereka. Bahasa yang sama sekali tidak saya tahu sedikitpun maknanya, kalau istilah teman-teman roaming. Jadinya saya mencari teman luar pulau jawa agar bisa ngobrol dalam Indonesia yang baik dan benar dan sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.

Acara penutupan di hari minggu siang, di acara penutupan ada tukaran kado yang telah disiapkan sebelumnya. Sayangnya ada beberapa orang yang tidak menyiapkan kado dengan benar, padahal teman-teman yang lain sudah bersusah payah menyiapkan kado untuk kenang-kenangan. Beberapa teman mendapatkan kado yang tidak bisa disebut kado, BH, celana dalam perempuan, kondom, hingga obat kuat. Mungkin maksudnya lucu-lucuan, tapi menurut saya sih salah.

Bukan masalah berapa besar dan berapa nominal yang kita keluarkan untuk kado itu, tapi kenangan dan cerita dari kado itu yang lebih penting. Paling tidak dengan membawa kado yang benar, kita menghargai teman-teman yang sudah mau repot menyiapkan kado untuk memeriahkan acara. Untung bukan saya yang dapat kado seperti itu, karena jika iya saya akan keberatan. Oh iya saya dapat kado buku kambing jantannya Raditya Dika, siapapun yang memberikan buku ini saya ucapkan terima kasih. Saya pernah punya buku itu, tapi hilang entah kemana.

Terakhir, saya ingin memberikan apresisasi setinggi-tingginya kepada panitia. Awalnya saya sempat mengeluh “ah panitia tidak becus, rundown tidak jalan”, “ah panitia kurang siap nih”, panitia itulah, inilah. Keluhan yang kemudian sesali. Begitu saya tahu panitia hanya berjumlah 14 orang, serasa ingin menarik kembali keluhan yang sempat saya lontarkan. Mereka hebat dengan jumlah yang lumayan sedikit, bayangkan 14 orang harus mengurusi seratusan orang yang masing-masing punya keinginan yang berbeda. Saya jika ditanya apakah Makassar bisa jadi tuan rumah Ngopi? Saya akan angkat tangan tanda menyerah, karena saya tahu itu tidak mudah dilakukan. Hebatnya Mojokerto melaksanakannya dengan jumlah panitia hanya 14 orang. KEREN.

Salah satu teman berbagi nasi Makassar, sebut saja Anchu yang juga ikut Ngopi punya masalah di makanan. Ia tidak bisa makan nasi, dan saya yakin menu utama dalam perjamuan makan adalah nasi. Hal ini sudah saya informasikan kepada Widhi (Humas) jauh hari sebelumnya, yang tidak saya sangka ada satu orang yang khusus mengurusi Anchu begitu waktu makan tiba. Mbak Ega namanya, tiap kali waktu makan tiba, Mbak Ega akan bertanya kepada Anchu “Mau dimasakkan Mienya sekarang?” bahkan beberapa panitia sempat ke kamar yang saya dan Anchu tempati, hanya untuk memastikan apakah Anchu sudah makan? Teman-teman Berbagi Nasi Mojokerto KERENLAH POKOKNYA. SALUT.

Kalau kata Cece (Batam) yang ikut Ngopi dari pertama sampai yang ketiga. Panitia Mojokerto terlalu baik. Jelasnya sesuai kepanjangan dari Ngopi (Ngobrol Asik Pejuang Nasi), acara Ngopi di Mojokerto memang asik, asik asik Joss.

“SAMPAI JUMPA DI NGOPI 2017 BATAM”

Nonton video keseruan Ngopi 2016 di sini

Leave a Reply

%d bloggers like this: