Lika-liku Hidup Mahasiswa Keperawatan

Hidup penuh liku-liku, ada suka ada duka, semua insan pasti pernah merasakannya. Begitu kira-kira lirik lagu yang didendangkan Camellia Malik dengan judul liku-liku, sebuah lagu yang membawa pesan bahwa tiap orang merasakan pengalaman hidup yang berbeda. Bagaimana dengan perjalanan hidup mahasiswa keperawatan?

Meski begitu terkadang kita memiliki alur perjalanan hidup yang hampir sama ketika menjalani hal yang sama pula, alur yang sama ini biasanya dipengaruhi oleh sistem, aturan, kebijakan atau peraturan-peraturan yang mengikat.

Begitu pula dengan alur hidup yang akan dijalani mahasiswa keperawatan, meski pada proses dan hasilnya bisa berbeda namun ada jalur yang sama yang akan dilewati oleh mahasiswa keperawatan. Ada yang melewati jalur dengan mudah, ada pula yang melewati jalur dengan susah payah bahkan terseok-seok. Saya yang pernah melewati jalur itu harus bilang itu tidak mudah.

Kuliah Keperawatan

Kita mulai dengan bagaimana sih kuliah keperawatan itu? Pendidikan keperawatan itu terdiri dari pendidikan Diploma 3 (D3) Keperawatan, S1 Keperawatan, Profesi Ners, S2 Keperawatan, S2 Spesialis Keperawatan. Sebelumnya pernah ada Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) namun dihapuskan oleh Kementerian Kesehatan (KEMENKES) pada tahun 1999 dan semua SPK dikonversi ke Akademi Keperawatan (D3). Adapun sekarang ini banyak Sekolah menengah kejuruan Kesehatan (SMK Kesehatan) sebenarnya bukanlah tingkatan dari sekolah keperawatan, karena siswa yang lulus dari SMK Keperawatan tidak bisa disebut sebagai perawat.

Untuk melanjutkan kuliah sudah pasti harus lulus SMA dulu, ada dua piihan. Bisa kuliah Diploma atau kuliah sarjana. Dilemanya begini, kalau kuliah D3 Keperawatan setelah lulus langsung bisa kerja tapi mentok sebagai perawat pelaksana, untuk naik jabatan harus lanjut kuliah S1, biasanya disebut jalur konversi (Bergelar D3 lanjut S1, kuliah 3 semester). Kalau langsung kuliah S1 itu membutuhkan waktu 4 tahun, kalau kuliah D3 dulu kemudian lanjut S1 itu butuh waktu 4,5 tahun. Yah kalau begitu kenapa tidak langsung kuliah S1 Keperawatan saja?

Sayangnya gelar S1 Keperawatan tidak bisa digunakan melamar pekerjaan, jika itu berhubungan dengan pasien (kasarnya tidak boleh menyentuh pasien). Paling mentok kerja di kefarmasian bagias sales representative, atau kerja sebagai staf bagian administrasi di rumah sakit. Membingungkan memang, D3 Keperawatan boleh menyentuh pasien, eh justru sarjana keperawatan (yang tingkatannya lebih tinggi) justru tidak boleh menyentuh pasien. Untuk bisa menggunakan gelar S1 bekerja harus dilengkapi dengan Gelar Ners.

Ners adalah gelar profesi bagi keperawatan (sama seperti gelar profesi dokter untuk kedokteran), ners bisa dilanjutkan jika telah menyelesaikan pendidikan sarjana keperawatan. Kuliah 4 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana ditambah 1 tahun Praktek (Kuliah di lahan praktek) untuk mendapatkan gelar Ners.

Kalau diawali dengan kuliah D3 berarti butuh waktu 5,5 tahun untuk mencapai gelar ners, tentu saja kalau kuliahnya tidak ada masalah atau langsung melanjutkan kuliah tanpa putus. Kalau lulus SMA langsung kuliah sarjana itu butuh waktu 5 tahun untuk mendapatkan gelar Ners.

Biaya Kuliah

Pendidikan sekarang ini memang bukan barang murah, terutama di keperawatan. Makassar pada khususnya, untuk kuliah keperawatan itu kisaran antara 2,5 sampai 3,5 juta per semesternya (SPP). Itu belum menghitung sumbangan pembangunan (SP), belum termasuk biaya praktek (beberapa institusi memisahkan biaya kuliah dan biaya praktek, SPP hanya diperuntukkan untuk perkuliahan di kampus). Belum lagi buku penunjang kuliah yang harganya ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Kalau kuliah sarjana selama 4 (empat) tahun itu berarti 8 (delapan) semester, kita seragamkan, misalkan SPP kita ambil Rp. 3.000.000, berarti dibutuhkan Rp. 24.000.000 sampai selesai. Sumbangan pembangunan diperkiran Rp. 4.000.000, biaya buku diperkirakan minimal Rp. 2.000.000 per 2 semester berarti Rp. 8.000.000. Biaya praktek rata-rata Rp. 500.000 per praktek, jika praktek 9 kali akan berjumlah Rp. 4.500.000. Total sebanyak Rp. 40.500.000

Itu baru tahap sarjana keperawatan, kalau mau lanjut Ners beda lagi biayanya. Profesi Ners hanya berlangsung 2 semester, namun biaya yang dibutuhkan besar karena pelaksanaannya di lahan praktek. Rata-rata (menurut beberapa institusi keperawatan di Makassar) harus merogoh kocek hingga Rp. 20.000.000. Biaya kuliah sarjana ditambahkan biaya kuliah ners mencapai Rp. 60.500.000.

Hitung-hitungan biaya di atas adalah perkiraan saya sendiri, dasarnya adalah pembiayaan di beberapa insituti yang ada di Makassar. Kemungkinan jumlahnya lebih besar, tapi saya yakin hanya kemungkinan kecil lebih sedikit. Itupun mengabaikan biaya yang lain seperti biaya hidup sehari-hari, pelatihan, sewa kost, transportasi dan lain-lain.

STR dan Uji Kompetensi

Lantas, setelah selesai kuliah D3 Keperawatan atau Ners sudah bisa langsung kerja? Oh belum tentu, terutama jika kamu belum memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). Untuk mendapatkan STR, masih ada satu ujian yang harus dilewati meski sudah dinyatakan lulus oleh kampus, yaitu Uji kompetensi (UKOM). Sebagai bentuk penjagaan kualitas dan ingin menetapkan standar nasional kompetensi keperawatan, uji kompetensi dilaksanakan sejak 2013 (diatur dalam UU No.36/2014 tentang Tenaga Kesehatan dan UU No.38/2014 tentang Keperawatan).

Uji kompetensi Ners adalah salah satu perjalanan mahasiswa keperawatan

Uji kompetensi Ners adalah salah satu perjalanan mahasiswa keperawatan

Sejak pertama kalinya dilakukan di tahun 2013 hingga pelaksanan yang ke 6 (enam), masih ada sekitar 10% yang tidak lulus UKOM meski telah mengikuti UKOM sebanyak 6 kali. Pelaksanaan UKOM 2 kali dalam setahun, 6 kali ujian berarti menghabiskan 3 tahun. Uji kompetensi ini seakan menjadi momok bagi mahasiswa keperawatan, bagaimana tidak? Sudah dinyatakan lulus dari kampus tapi belum diakui kompetensi kalau belum lulus UKOM.
Barulah jika lulus UKOM punya hak untuk diberikan STR, tapi jangan berpikir proses pembuatannya cepat. Menunggu terbitnya STR butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan (salah satunya teman saya yang menunggu terbit STR setelah 1 (satu) tahun menunggu.(diatur dalam Permenkes No. 148 tahun 2010).

Mencari Pekerjaan

Mari berangan-angan UKOM sudah lulus, STR sudah di tangan. Apakah sudah bisa kerja? Tunggu dulu, secara legalitas mengantongi ijasah dan STR itu memang sudah bisa kerja, namun jangan lupa bahwa bukan cuma kita yang mencari kerja, ada banyak orang dengan tujuan yang sama.
Tiap tahunnya terdapat ribuan lulusan keperawatan, yang akan mencari kerja juga. Artinya siap-siap bersaing dengan ribuan lulusan itu. Data dari Asosiasi Institusi Penyelenggara Ners Indonesia (AIPNI), terdaftar sebanyak 288 Institusi penyelenggara pendidikan keperawatan. Anggap saja tiap institusi meluluskan 100 mahasiswa tiap tahunnya, itu berarti 28.800 lulusan keperawatan akan mencari kerja di sektor yang sama. Menurut pengamatan saya tidak ada kampus (di Makassar) yang meluluskan mahasiswa keperawatan hanya di bawah 100, itupun 2 (dua) kali wisuda tiap tahun. Hitungan 100/tahun hanya mengambil angka minimal.

Baca juga : 5 hal tentang yang tidak kamu ketahui tentang mahasiswa keperawatan

Sementara itu pilihan bekerja juga tidak banyak, mau jadi PNS kuota sangat terbatas untuk tenaga kesehatan. Bekerja di rumah sakit swasta pun hanya bisa menampung puluhan orang, ingin jadi dosen pendidikan minimal S2. Membuka klinik harus punya modal banyak dan perijinan sana sini, itupun masih sebatas klinik untuk perawatan luka.

Bekerja tidak sesuai bidang ilmu? Yah ini banyak dengan terpaksa bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmu, tuntutan ekonomi menyudutkan mereka harus menyimpang dari jalur keperawatan. Saya punya banyak teman yang bergelar Sarjana Keperawatan + Ners akhirnya bekerja di bank, bagi saya itu tidak salah karena semua orang punya kebutuhan yang harus dipenuhi.

Hebatnya adalah serumit itu dunia keperawatan, ternyata peminatnya tetap masih banyak. Saya ingat waktu ketika akan masuk kuliah keperawatan “Perawat itu selalu ada penerimaan PNS, selalu dibutuhkan, masa depan menjanjikan, karena orang sakit tidak akan pernah habis”. Kalimat yang akhirnya membuat keluarga meminta saya kuliah di keperawatan, supaya gampang cari kerja nantinya.

Sepertinya kalimat itu masih berulang ke beberapa orang yang akhirnya memilih jalur keperawatan. Bagi kalian yang yang berada pada jalur yang sama, SEMANGAT hidup kita sudah digariskan, sisa kita mencari di mana garis itu digoreskan. [adw]

43 comments on “Lika-liku Hidup Mahasiswa Keperawatan”

  1. Semangat . Pada akhirnya aku mengambil D3 keperawatan … oh iyah kak kalau UKOM itu pas kita mau ngambil ners atau gmna ? Mohon pencerahnya hehe

    1. Ardian says:

      Ukom itu setelah selesai NErs, ukom juga kalau selesai D3 keperawatan

  2. Waduh gimana nih. Saya sudah masuk Ilmu keperawatan universitas riau. Tapi bukannya perawat laki laki lebih dibutuhkan. Maka oleh itu saya milih masuk keperawatan

    1. Ardian says:

      setau sy tidak ada yg pernah mengatakan perawat laki2 lebih dibutuhkan

    2. Benar bang ardy, setau saya perempuan malah lebih dibutuhkan karena perawat perempuan boleh memegang pasien laki dan perempuan sedangkan perawat laki tidak bisa memegang perempuan

      1. Ardian says:

        Perawat laki-laki juga bisa pegang pasien perempuan kok, secara legal tidak ada aturan untuk itu.
        cuman kecenderungannya ada pasien yang menolak disentuh oleh lawan jenis.

        saya pernah 3 kali membantu persalinan. padahal saya laki-laki loh

  3. tifa says:

    kak kalau div keperawatan apakah juga ambil profesi ners?

    1. Ardian says:

      dgr2 akan ada aturan untuk itu

  4. rahmat says:

    apa sudah kerja skrg sesuai profesi atw sdh krja tp beralih profesi??
    hhhh

    1. Ardian says:

      skrg saya tetap kerja sesuai profesi tapi di akademik

  5. rizal says:

    Apakah perawat bisa buka pratek sesudah tamat

    1. Ardian says:

      BIsa, tentu dengan beberapa persayaratan

  6. Yunii says:

    Kalo lulusan SMK bisa kuliah nggak?

    1. Ardian says:

      iya bisa lanjut kuliah S1, syaratnya kan lulusan SMA atau sederajat

  7. vindriana says:

    kak saya tertarik mw masuk keperawatan
    dr dulu cm tersangkut biaya
    apa masih ad peluang buat umur saya tahun ini 26th

    1. Ardian says:

      kalau masalah peluang selalu ada, tidak ada kata terlambat untuk melanjutkan pendidikan.
      saya punya mahasiswa yang berumur 30an dan 40an, dan mereka lanjut kuliah S1.

  8. postingannya sangat sangat sangat deskriptif daaannnn benar

  9. Zaid says:

    Kak mau tanya apakah untuk melamar di setiap klinik atau RS baik negeri atau swasta harus di sertakan STR ?
    Bagaimana dengan lulusan S.kep Ns yang masih menunggu waktu ukom atau menunggu STR, kemana saja kami bisa mengajukan lamaran pekerjaan ?

    1. Ardian says:

      tiap klinik atau RS punya kebijakan masing-masing terkait penerimaan pegawai mereka,
      namun sepengetahuan saya STR berlaku umum, STR adalah penanda bahwa seorang perawat dinyatakan kompeten untuk melayani pasien.

      biasanya kalau smntara pengurusan STR ada surat dari DINKES setempat untuk digunakan melamar pekerjaan

  10. Eka Rahayu says:

    halo kak, saya ingin bertanya. menurut kakak bagaimana cara belajar yang baik untuk mahasiswa keperawatan ?

    1. Ardian says:

      banyak membaca dan latihan skill

  11. Lulusan s1 tanpa ners kerja apa ada saran?

    1. Ardian says:

      Beberapa RS biasanya menerima untuk ditempatkan di Administrasi, saran saya, lanjut ners.

  12. lutfi says:

    Kak aku d lV kep semester satu plus ners, aku juga udah pernah dengar kalau kuliahnya lama sekitar 5 tahunan dan itu masih nunggu STR lalu untuk jadi pns itu susah dan saingannya banyak, aku masih binggung kak aku salah jurusan enggak. Mumpung masih semester satu karena aku orangnya masih tidak berani buat ngerawat orang lain, aku juga dengar dari kating nyeritain dia pas praktik kaya nggak kuat dan salah jurusan padahal dari awal sebenarnya dia pengen jurusan itu. Aku lagi galau kak aku mending terusin atau berhenti ke jurusan lain. Tapi aku juga kasihan sama ortu karena udah ngebiayain baru sem 1 aja udah belasan jt karena nggak cuma ukt tetapi seragam dan asrama. Mohon saran kak

    1. Ardian says:

      Dear Lutfi,

      saya tidak bisa menyatakan bahwa lutfi salah jurusan atau tidak, namun tanya diri sendiri apakah jurusan sekarang sesuai dengan keinginan atau tidak?
      atau setelah kuliah apakah lutfi menikmati atau tidak?
      atau cari-cari dulu apakah yang bisa dikerjakan lulusan Ners setelah selesai selain menjadi perawat di RS?

      semoga itu bisa membantu

  13. Ucup says:

    Menurut kk, bgymn yg hanya S1 kprawatan, blm pns ambil S2 jurusan lain?

    1. Ardian says:

      gimana yah? namanya melanjutkan pendidikan S2 itu tidak ada salahnya, tapi arahnya mau kemana dulu?
      kalau mau jadi dosen baiknya ambil S2 Keperawatan

  14. Chindy Febria says:

    Kak mau tanya saya kuliah d3 kep di poltekkes smg. Saya masi bingung ya nanti itu setelah mengikuti ukom kan tidak langsung mendapatkan str, masih menunggu kurang lebih 1 th. Salam kurun waktu tsb kita bisa mencari kerja atau menunggu dirumah? Mohon bimbingannya 🙂

    1. Ardian says:

      sekarang ini STR jadinya tidak terlalu lama kok, kalaupun lama akan ada surat keterangan pengurusan untuk pengganti STR sementara.
      jadi bisa untuk digunakan melamar kerja. semangat

  15. anangkurniawan says:

    Jurusan spesialis kep. Apa aja ya kak?

    1. Ardian says:

      ada beberapa
      spesialis Jiwa
      spesialis KMB
      Spesialis Komunitas
      Spesialis anak
      Spesialis maternitas.

      setahu saya itu

  16. Rahmat Novriansyah says:

    Dik, kk perawat D3 lulusan 2011, poltekkes kemenkes palembang.. Skrg kerja di rsud talang ubi kab.PALI.. Rencana mau. Ikut tubel kemenkes 2018.. Bisa bantu share universitas yang buka jalur ekstensi untuk S1 + Ners?! Kalo di kampus dik Ardian gmn?

    1. Ardian says:

      salam, saya lulus ners 2011.

      MEngenai pertanyaannya banyak kampus kok yg buka jalur utk lanjut S1, namanya jalur konversi. kalau di Makassar saya tau banyak kalau di luar makassar saya kurang tahu.
      di kampus ada jalur konversi dari D3 ke S1+Ners

  17. Leo says:

    Kalau mahasiswi yang ambil profesi Ners bisa nikah ga selama proses profesi?

    1. Ardian says:

      bergantung kebijakan di kamous masing-masing, di kampus saya bisa.

  18. Iqbal says:

    Ka saya mau tanya apakah ada program beasiswa ? Kalau ada dimana dan bagaumana cara mendapatkannya
    Trimakasih

    1. Ardian says:

      program beasiswa yang umum biasanya ada dari DIKTI, PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) dan BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa)
      untuk cara mendapatkan PPA harus berprestasi, kalau BBM biasanya kampus yg tunjuk.

      yang lain mungkin ada tapi sy tidak bisa menjelaskannya

  19. angga dermawan says:

    postingan yang sangat bagus dan membantu

  20. herdiawan says:

    pak mau nanya dari d3 keperawatan poltekes bisa melanjutkan ke s1 keperawatan

    1. Ardian says:

      bisa banget, namanya jalur konversi

  21. Widiyasari says:

    Ka aku mau tanya, aku sekolah SMK jurusan keperawatan yang sekarang ini masih dikelas 11 smstr 2, aku udh bingung nanti mau kuliah ambil D3/S1, aku sih pengennya Kerja dulu, soalnya aku anak pertama adik ku banyak, wkwk .. denger2 dari guru2 disekolahan juga kalo D3 itu banyak yg dibutuhkan di rumah sakit, dari pada yang S1, tapi aku bingung -___- .. bisa si kak klo lulusan SMK keperawatan langsung kerja?, syrat2nya apa aja, pakai STR juga?, apa harus punya pengalaman dulu?? ..

    terimakasih ka

    1. Ardian says:

      bagi lulusan D3 keperawatan itu bisa langsung kerja sebagai perawat pelaksana di rumah sakit.
      kalau hanya lulusan S1 tidak bisa bekerja sebagai perawat TANPA ners.
      kalau lulusan NERS akan lebih mudah mendaatkan kerja dan juga tingkat yang lebih tinggi

      lulusan SMK Keperawatan tidak bisa kerja sebagai perawat.

Leave a Reply

%d bloggers like this: