5 Tingkatan Marah

Ketika mendengar kata emosi, kebanyakan orang akan berpikir tentang marah. Itu tidak salah namun itu tidak sepenuhnya benar, pada dasarnya emosi ada bermacam-macam. Emosi sendiri adalah reaksi tubuh terhadap sebuah situasi yang dihadapi, bisa berupa marah, malu, sedih, bahagia dan takut.

Pernahkah anda merasakan emosi? seharusnya jawabannya YA. Jika tidak, anda perlu memeriksakan diri ke dokter. Manusia tanpa emosi bagaikan sayur tanpa garam, malam tanpa bintang, aku tanpa kamu. Rasanya hampa. Dalam tulisan ini saya akan membahas tentang salah satu bentuk emosi yaitu marah.

Marah adalah emosi pada manusia yakni respons emosional yang kuat dan tidak menyenangkan, terhadap suatu penyebab baik nyata ataupun yang dipersepsikan seseorang. Bisa dibilang bahwa kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman atau kegagalan.

Marah sebagai suatu bentuk emosi berada dalam darah kita semua, maka wajarlah jika ada yang bilang semua orang pernah marah, bahkan orang yang paling sabar sekalipun. Seperti Pak Sabar guru saya dulu, meski namanya sabar ia juga sering marah-marah. Bagi yang belum tahu ternyata marah punya tingkatan, dalam dunia psikiatrik (kejiwaan) disebut rentang respon marah.

Apa saja respon rentang marah itu? Silahkan disimak.

rentang respon marah

rentang respon marah

Assertif

Seorang mahasiswa kesal dan marah karena tidak mendapatkan nilai A dalam satu mata kuliah, padahal ia sudah belajar keras untuk mata kuliah tersebut. Ia marah kepada dirinya sendiri, kepada soal ujian yang sulit tapi tetap menerima keadaan tersebut. Maka mahasiswa tadi masuk dalam fase assertif.

Fase ini bisa dibilang respon wajar dalam hal marah, karena merupakan ungkapan kekesalan, atau tidak setuju akan suatu hal. Marah dalam fase assertif tidak merugikan orang lain, hanya mengungkapkan perasaan dan menyatakan secara verbal, terkadang dalam bentuk non verbal. Bahkan sikap assertif bisa membuat perasaan lega kepada orang yang melakukannya. Malah terkadang setelah marah dalam fase ini, muncul motivasi sebagai respon dari kegagalan atau ketidaksetujuan akan sesuatu.

Fase assertif adalah tingkatan marah (rentang respon marah) yang paling rendah, malah kadang susah dibedakan antara dia marah atau sekedar bersedih.

Frustasi

Respon frustasi adalah respon marah selanjutnya, biasanya terjadi karena gagal dalam mencapai tujuan dan tidak bisa menerima kenyataan. Bedanya dengan assertif, orang-orang yang mengalami frustasi memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Nampak ketegangan dalam dirinya dan sering menjauh dari keramaian. Kekecewaan yang dialami sangat membekas, ditampakkan dari mengurangi interaksi dengan orang lain dan lebih sering menyendiri.

Pasif

Marah pasif adalah marah yang paling banyak dilakukan oleh perempuan, fase ini sangat berbeda dengan fase sebelumnya yang menunjukkan marah dengan nyata. Ini adalah jenis marah yang lebih banyak diam, tidak mengungkapkan amarah.

Itulah kenapa saya mengatakan bahwa jenis marah ini paling banyak dilakukan oleh perempuan, suasana hati perempuan susah ditebak ketika diam, mereka marah tapi tidak ketahui alasannya dan apa yang harus dilakukan. Hanya duduk termenung, dengan muka masam tanpa kata-kata sedikitpun, laki-laki yang berada di posisi ini bingung harus bereaksi seperti apa. Kalau ada yang tidak setuju, ditunggu di kolom komentar. Piss.

Meski tidak mengungkapkan perasaannya, orang-orang yang marahnya pasif tidak boleh disepelekan. Perasaan marah yang dipendam bisa keluar kapan saja, bahkan bisa menjadi beban pikiran jika dibiarkan berlarut-larut.

Maka sebaiknya marah itu diekspresikan, dikeluarkan dengan wajar, jangan disimpan agar tidak menjadi penyakit hati. Sama halnya cinta, katakan bila memang suka, buang jauh-jauh jika memang tidak ada perasaan. Eh.

Agresif

Perilaku yang menyertai marah namun masih dapat dikontrol. Orang agresif biasanya tidak mau tahu pendapat orang lain. Marah diekspresikan dengan fisik dan nyata namun masih terkontrol, tapi mulai menggunakan kata-kata yang kasar bahkan hingga mengancam. Terkadang pada fase ini sudah ada gerakan seperti akan memukul seseorang namun tidak dilakukan, masih sebatas gertakan.

Meski belum sampai melukai orang lain, agresif sudah termasuk fase maladaptif (tidak bisa beradaptasi terhadap keadaan) pada rentang respon marah.

Baca juga : Sebelum marah-marah di UGD, kamu harus tahu ini

Kekerasan/ Mengamuk

Rasa marah yang kuat disertai dengan kehilangan kontrol diri, inilah tingkatan marah yang paling tinggi. Orang yang mengamuk tidak bisa lagi mengontrol emosi yang dia miliki, sebaliknya emosilah yang mengendalikan dirinya. Mengamuk menjadi salah satu diagnosa dalam ilmu kejiwaan, dimana orang yang marah hingga mengamuk tergolong sebagai gangguan kejiwaan. Bahkan ada yang namanya kegawatdaruratan psikiatri (kejiwaan), ini dikarenakan tindakan dilakukan bisa mengancam, menyakiti diri sendiri dan juga orang lain di sekitarnya.

Sebaiknya kalau marah jangan sampai mengamuk, dan kalau ada yang ngamuk sebaiknya jangan didekati.

semoga kita semua diberi kesabaran ketika menghadapi sebuah masalah, ataupun mengalami sebuah kegagalan. semoga jikapun marah, masih dalam tahap wajar tidak sampai mengamuk seperti yang dijelaskan pada rentang respon marah tadi.

“tulisan diikutkan dalam #Tantangan5 #KMKepo kelaskepo.org”

Leave a Reply

%d bloggers like this: