5 Catatan perjalanan : Lembah Ramma

lembah ramma Tallung

lembah ramma | Tallung

Selama 2 (dua) hari dari tanggal 10-11 desember 2016, saya bersama teman-teman dari Lembaga Kesenian Mahasiswa (LKM) Universitas Bosowa (UNIBOS) melakukan perjalanan ke lembah Ramma. Lembah ini terletak di kaki gunung Bawakaraeng, salah satu gunung di Sulawesi Selatan dengan ketinggian 2.845 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meskipun namanya lembah, namun untuk mencapainya tetap melakukan pendakian seperti mendaki gunung pada umumnya, lembah ramma sendiri berada pada ketinggian antara 1700-1800 mdpl.

Kami berada di desa terakhir yaitu Desa Lembanna di Malino Kabupaten Gowa, pukul 1 malam. Rencananya perjalanan menuju Ramma akan dimulai pada pagi hari, jadi kami memutuskan menginap di salah satu rumah warga yang ada di Desa Lembanna.

Pukul 7 pagi, 10 Desember 2016. Kami melangkah demi langkah menuju Lembah Ramma, yang normalnya bisa ditempuh selama 4 jam. Kami pun harus melakukan perjalanan mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke Samudra, bersama teman bertualang. Kira-kira seperti itu deskripsi perjalanan menuju Lembah Ramma.

Selain menanjak dan menurun, setidaknya ada 4 (empat) sungai yang dilewati sebelum mencapai Tallung (Titik tertinggi di Lembah Ramma). Setiap melakukan perjalanan seperti ini, selalu banyak cerita yang bisa dibawa pulang, namun ada beberapa catatan yang bisa saya tuliskan dari perjalanan hari itu. Oh iya, ini kedua kali saya melakukan perjalanan ke Lembah Ramma.

Lembah Ramma

Di tengah pendakian

Ajak teman yang lucu

Mendaki adalah aktivitas yang membutuhkan energi yang banyak, fisik yang bagus dan tekad yang kuat. Kalau kata teman saya Iful yang ikut pada perjalanan kali ini “Kita tidak akan mampu mengalahkan gunung, tapi kemauan bisa lebih tinggi dari puncak manapun”.

Kemauan bisa mengalahkan segalanya termasuk dalam hal mendaki, meski tidak mudah menuju suatu puncak tapi dengan kemauan yang kuat kita bisa mencapai puncak manapun. Dalam hal mendaki, ada kalanya kita akan patah semangat karena kelelahan fisik dan juga kekalahan mental. Bahkan terkadang ada yang ingin balik saja meski belum sampai puncak, pada titik seperti inilah kita butuh teman yang lucu atau bisa menghibur.

Teman yang lucu atau menghibur mampu mengubah suasana yang tadinya capek atau patah semangat, menjadi segar kembali. Fisik yang tadinya lemah atau mental yang jatuh, bisa kembali terisi setelah tertawa. Padahal tertawa juga butuh energi, tapi entah kenapa ketika sementara mendaki atau sedang istirahat, tertawa seperti obat kuat yang membuat kita mampu melangkah lagi.

Rustam atau Cuttank dan Iful yang mengambil peran ini selama perjalanan kemarin, bukan satu dua kali mereka mengeluarkan celetukan atau tingkah yang membuat kami tertawa dan membakar semangat yang tadinya hampir padam

Bawa cemilan manis

Kenapa harus cemilan manis? Karena kita butuh energi. Tubuh akan memproses semua makanan yang masuk dalam bentuk gula atau istilah medisnya glukosa. Glukosa lah yang menjadi sumber energi di dalam tubuh, tapi prosesnya lama. Makanan atau cemilan manis akan mempersingkat proses tersebut, Karena memang sudah berbentuk gula (manis).

Paling tidak dengan adanya cemilan manis, kita bisa memenuhi kebutuhan energi saat mendaki. Yah paling tidak cemilan ini akan memenuhi asupan energi sebelum waktu makan tiba, makanya beberapa kelompok pendaki kadang membawa gula merah yang di emut-emut selama perjalanan.

Perjalanan hari itu, kami gantian mengeluarkan perbekalan masing-masing untuk dimakan selama perjalanan. Seperti misalnya permen, coklat kemasan, biskuit, ataupun minuman-minuman manis. Beberapa kali saya harus meminta permen atau coklat dari Popu dan Andra yang punya simpanan cemilan, ketika energi sudah mulai terkuras.

Bawa koki

Mungkin ada yang berpikir ketika naik gunung, kita akan makan seadanya, lauk secukupnya dengan menu-menu yang sederhana. Yah mungkin saja itu terjadi kalau kita tidak prepare dari awal, maka ketika mendaki jangan lupa ajak koki. Koki yang saya maksud bukan koki professional atau lulusan master chef yah, paling tidak ada satu teman yang punya kemampuan mengolah makanan dari bahan seadanya menjadi makanan yang enak dan bergizi.

Penting sekali memperhatikan itu, karena kita butuh makanan untuk mengisi energi yang terkuras habis selama perjalanan. Juga untuk menghadapi cuaca dingin di gunung, untunglah perjalanan hari itu dalam rombongan kami ada Dewi yang didaulat menjadi koki. Inno, Fery, Eky kadang menjadi asisten koki menyiapkan menu-menu lainnya.

Sebagai koki, Dewi punya kemampuan menyajikan bahan makanan yang dibawa menjadi lebih lezat daripada makanan yang pernah kami makan sebelumnya, atau mungkin karena itu pengaruh lapar yah? Jadi apa saja yang disajikan rasanya jadi enak semua.

Jangan lupa jas hujan

Seperti suasana hati perempuan, cuaca di gunung juga susah ditebak. Tadinya langit begitu cerah bisa saja tiba-tiba mendung dan hujan. Repot ketika hujan dan kita tidak punya persiapan untuk menghadapi itu, makanya siapkan jas hujan untuk kemungkinan terburuk.

Perjalanan pulang dari Lembah Ramma kemarin, kami dihujani habis-habisan selama kurang lebih 2 jam. Beberapa teman terpaksa harus menembus hutan di bawah guyuran hujan tanpa jas hujan. Untunglah beberapa teman membawa jas hujan lebih, untuk dipakai teman yang lupa mempersiapkannya. Saya sendiri membawa dua jas hujan, yang kemudian dipakai sama Iqra.

Jangan dipaksa

Mengutip kalimat dari film 5 cm, banyak pendaki yang tidak sampai puncak karena mereka memaksakan diri. Ketika mendaki yang perlu diketahui adalah kita semua memiliki fisik yang berbeda, sehingga kecepatan juga akan berbeda. Ambillah beberapa saat untuk beristirahat ketika tubuh mulai letih atau napas sudah ngos-ngosan.

Iqra yang baru pertama kali mendaki saat itu, mengalami cedera pada lutut, dia merasa nyeri tiap kali melangkah atau bertumpu. Kata Iqra, awalnya dia sangat bersemangat, hingga sedikit memaksakan diri di awal. Untunglah Iqra tidak kenapa-napa dan bisa menyelesaikan perjalanan pergi-pulang dengan selamat.

Widy salah teman yang selalu berada pada urutan terbelakang saat mendaki, ia tidak memaksakan diri mengikuti ritme perjalanan yang agak cepat. Ketika dia tidak mampu, ia akan berhenti sesaat kemudian melanjutkan perjalanan. Meski selalu berada di urutan belakang, WIdy tetap bisa menyelesaikan perjalanan dengan aman.

Untung si Widy selalu ditemani oleh Iful, yang merupakan suami dari WIdy. Cieeee.

***

Teman-teman LKM UNIBOS

Teman-teman LKM UNIBOS

Perjalanan ke Lembah Ramma kemarin, kami berjumlah 11 orang. Saya, Iqra, Eky, Popu, Iful, Widy, Andra, Inno, Fery, Dewi dan rustam. Terima kasih kepada teman-teman LKM yang telah membawa saya kembali melihat keindahan Lembah Ramma, Andra yang selalu menjadi leader memastikan jalan yang dilalui benar, Popu, Rustam, Eky, Fery yang selalu membawa beban lebih besar dari kami semua. Iqra dan Widy yang memperlihatkan tekad yang kuat, Dewi yang selalu bertugas di dapur, Inno yang siaga tiap saat mengambil air untuk memasak atau untuk diminum. Iful yang selalu membuat kami tertawa, terkhusus ketika dia berjoget ala-ala cheerleader.

Ditunggu perjalanan berikutnya kawan-kawan.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam #Tantangan5 kelaskepo.org

Leave a Reply

%d bloggers like this: