5 Hal yang Dialami Anak Pertama

Tentu saja kita tidak bisa memilih akan dilahirkan oleh siapa, dilahirkan di mana atau dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan. Begitu juga urutan lahir, kita tidak akan tahu akan dilahirkan sebagai anak pertama, kedua atau terakhir. Tiba-tiba begitu dilahirkan ternyata sebagai anak pertama, atau malah dilahirkan buntut atau terakhir. Beruntunglah kalau kamu bisa membca tulisan ini, itu artinya kamu dilahirkan sebagai manusia.

Mau itu anak pertama, kedua, ketiga atau keempat belas, semua memiliki keuntungan masing-masing. Tidak ada yang lebih unggul, juga tidak ada yang lebih rugi. Kebetulan saya anak pertama, jadi pada tulisan ini saya kan mencoba menuliskan apa saja yang saya alami sebagai anak pertama. Semua yang tertulis berikut bukanlah sebuah riset yang menggunakan metode penelitian ilmiah, hanya berdasar dari pengalaman dan peristiwa-peristiwa yang saya alami.

Jikapun ada yang tidak sesuai, yah mohon maaf karena ini berdasarkan pengalaman pribadi. Jikapun ada kesamaan nama, peristiwa, tempat dan kejadian, semua itu hanyalah kebetulan semata. Yuk disimak apa saja.

Sebagai nama penggilan orang tua

Dalam sebuah arisan ibu-ibu kompleks, salah seorang ibu angkat bicara “sepertinya masih kurang satu orang yah? Siapa yang belum hadir?”

“Mama Dini belum datang” kata ibu yang lain.

Meski orang tua kita memiliki nama masing-masing, ketika sudah memiliki anak, mereka akan memiliki nama julukan yang mengikuti nama  anaknya. Misalnya mama ani, bapak aco, dan itu menjadi panggilan sehari-hari dari tetangga atau sesama orang tua. Bahkan cenderung tidak lagi memakai nama asli mereka, berubah menjadi mamanya ini, bapaknya itu.

Hanya anak pertama yang memiliki keistimewaan ini, biarpun nanti sudah besar bahkan berkeluarga. Orang-orang sekitar tidak akan lupa dengan nama julukan itu, secara tidak langsung membuat orang-orang sekitar terus mengingat nama anak pertama. Bahkan tidak jarang nama anak pertama menjadi nama dagang atau nama toko jika kebetulan orang tua mereka berwirausaha.

Sebelum invasi minimarket yang menjamur orang tua saya menjual barang kebutuhan sehari-hari di sebuah ruko di dekat pasar sentral. Nama tokonya menggunakan nama saya TOKO DIAN (Dian : Nama kecil)

Dapat barang baru

Orang tua memberikan anaknya barang baru tentu saja adalah suatu hal yang wajar, karena merupakan bentuk kasih sayang dan kebahagiaan mereka. Mulai dari pakaian baru, mainan baru, sepeda atau barang-barang yang dibutuhkan si anak ataupun barang yang diminati oleh anak. Untungnya sebagai anak pertama, akan merasakan kebaruan dari barang-barang tersebut, beda dengan anak kedua atau ketiga, terkadang mereka memakai pakaian lama yang pernah anak pertama gunakan.

Misalnya baju yang sudah kekecilan namun masih bagus, akan disimpan baik-baik untuk dipakai oleh anak selanjutnya. Paling sering barang-barang seperti sepeda yang bisa bertahan dalam waktu yang lama, anak kedua dan selanjutnya kadang hanya memakai sepeda bekas dari anak pertama.

Merasakan perjuangan keluarga

Umumnya anak pertama hadir dalam sebuah keluarga di tahun-tahun pertama pernikahan, meskipun beberapa keluarga harus menunggu beberapa tahun untuk hadirya sang anak. Tahun-tahun pertama pernikahan dalam sebuah keluarga adalah waktu-waktunya berjuang dan membangun. Anak pertama yang hadir di tahun awal pernikahan akan ikut meraakan bagaiaman orang tua mereka berjuang, membangun rumah, hidup sederhana dan seadanya.

Itulah kenapa anak pertama selalu dianggap lebih dewasa dan lebih sabar dari adik-adiknya, mereka mengerti bagaimana susah dan berliku-likunya perjuangan orang tua mereka dulu. Saya sendiri masih ingat bapak dan ibu awalnya berjuang dengan berkebun cengkeh, kemudian beralih menjadi  pedagang kebutuhan sehari-hari, karena invasi minimarket bapak akhirnya menjadi petani kemudian toko berubah menjadi toko hewan. Begitulah hidup selalu berproses.

Tulang Punggung Keluarga

Mau tidak mau, siap tidak siap, akan tiba waktunya ketika tanggung jawab orang tua berpindah ke pundak anak pertama. Entah itu secara perlahan dan sedikit demi sedikit atau bahkan bisa secara tiba-tiba dan keseluruhan. Sebagai  yang tertua anak pertama akan mengemban beban dan tanggung jawab ketika sudah dewasa nanti, ketika orang tua tidak lagi mempu mencari nafkah, atau ketika orang tua sudah berada di alam yang berbeda.

Tanggung jawab mencari nafkah berpindah secara alami, tidak ada aturan yang menjelaskan bahwa harus anak pertamalah yang memikul tanggung jawab. Tak jarang si sulung harus betul-betul menggantikan peran orang tua yang mencari nafkah, mengurus adik-adiknya bahkan memastikan dapur tetap berasap.

Beberapa bahkan membiayai kuliah adik-adiknya, biasanya sih ini terjadi kalau jarak antara anak pertama dengan adiknya agak jauh. Jadi waktunya pas, si kakak sudah bekerja dan si adik sudah usia masuk kuliah. Selain sebagai tulang punggung keluarga, anak sulung juga membawa nama besar keluarga. Apa yang ia lakukan dan raih akan membawa serta nama keluarga, begitu pula ketika tindakan yang berdampak buruk juga akan berimbas ke nama keluarga.

Begitu besar tanggung jawab yang dipikul, maka tidak salah jika ada yang bilang, KALAU CARI YANG BERTANGGUNG JAWAB, CARILAH ANAK PERTAMA kayak saya.

Baca juga : kenapa anak-anak dilarang masuk rumah sakit

 

KAPAN NIKAH?

Mau anak pertama, kedua atau ketiga belas, pertanyaan KAPAN NIKAH akan selalu hadir membayangi hidupmu. Tapi eitsss tentu saja pertanyaan ini akan dihadapi lebih cepat oelh anak pertama. Bahkan bisa lebih horor karena bisa menyerempet kemana-mana?

“kamu kapan nikah? Kasihan adekmu itu nda bisa nikah kalau kau belum menikah”

“Umur sudah cukup, penghasilan sudah ada, kenapa belum nikah? Normal kan?”

“baca artikel terus, baca buku nikah kapan”?

*Tulisan ini diikutkan dalam #tantangan5 kelaskepo.org

 

8 comments on “5 Hal yang Dialami Anak Pertama”

    1. Ardian Adhiwijaya says:

      OKe bro, ai fil yu tu

  1. Daeng Ipul says:

    untuk bagian pertama, kedua dan keempat saya ndak terlalu merasakan ji
    pace-mace ndak pernahji dipanggil bapak/mama Ipul
    saya jarang ji dapat barang baru
    dan saya ndak pernah ji jadi tulang punggung keluarga

    x))

    1. Ardian says:

      I dont feel you bro, kalau begitu.

    2. Ardian Adhiwijaya says:

      bedaki dih, hihih.

  2. Sebagai anak pertama. Saya pun merasakannya kak Iyan. paling enak yg barang baru, adek biasanya dapat bekas kakak. Hihi…

    1. Ardian says:

      Hahah iya apalagi saya, adekku cuma beda setahun, sanging bekasku na pake.

Leave a Reply

%d bloggers like this: