Setelah Sebulan Menikah

Awalnya saya mau memberi judul tulisan ini happy 1st monthversary, tapi setelah pikir-pikir saya mengurungkan niat. Soalnya saya sering menertawakan orang-orang yang merayakan hari sebulan mereka jadian, yang menurut saya terlalu berlebihan. Baru juga sebulan sudah perayaan, masih pacaran pula. Menurut saya sebulan itu masih terlalu dini untuk melakukan sebuah perayaan, pacaran atau menjalin hubungan butuh waktu untuk menghadapi ujian yang sebenarnya.

Sebulan terakhir ini saya telah menjalani satu peran baru, menjadi suami. Tepat tanggal 27 april 2017 lalu saya mengucapkan ijab qabul di depan penghulu, mengucapkan janji suci kepada seorang dewi (nama istri saya memang dewi). Janji yang berarti memindahkan beban orang tua perempuan dan berpindah tanggung jawab di tangan saya. Janji yang berarti saya akan bersama dengannya mulai saat ini hingga akhir hayat.

Bagi saya yang menjalaninya, sebulan berasa sangat lama. Namun berasa singkat ketika mendengar teman mengatakan “Cieee pengantin baru” ketika berpapasan dengan kami.  Sama ketika beberapa teman yang baru tahu kabar pernikahan saya, tiba-tiba menelpon dan langsung berujar “ehh sudah mako menikah dih?” membuat satu bulan jadi berasa hari kemarin. bahkan, ada juga yang baru menyampaikan passolo’nya, melihat undangan saya dikembalikan setelah sebulan menikah, membuat saya berpikir sebulan memang masih sangat singkat.

Meski begitu bagi saya rasanya tetap berbeda, rentang waktu sebulan cukup membuat beberapa perubahan di hidup saya, cukup waktu untuk menyadari beberapa hal tentang pernikahan. Menikah adalah tentang menerima, menyesuaikan dan menjalani. Menerima perbedaan-perbedaan kecil untuk kenyamanan bersama misalnya saja ketika tidur saya terbiasa dengan lampu menyala, namun istri tidak nyaman tidur ketika ada cahaya lampu, kemudian kami sesuaikan dengan memasang lampu yang agak redup, dan menjalaninya bersama-sama. Tentu saja perihal lampu tidur adalah satu dari banyak yang harus disesuaikan.

Saya orangnya agak ceroboh dan gegabah, kadang bingung dan lupa menyimpan barang-barang tertentu.  Suatu saat ketika kebingungan mencari kunci yang entah dimana saya menyimpan, istri langsung bertanya “cari apaki?”

“cari kunci ruangan kantor, nda tau simpan di mana tadi”

“ada di atas lemari kecil dekat buku”

Atau ketika sedang perjalanan ke kantor, tiba-tiba baru ingat lupa membawa kabel charger

“aduh lupaka bawa kabel charger”

“ada saya bawa di tasku sayang” ujar istri.

Hal sederhana seperti membuat hari-hari jadi lebih baik, betul kata orang menikah itu melengkapimu.

Belum terlalu banyak lika-liku rumah tangga yang kami lalui, selama sebulan ini kami masih meresapi manisnya pernikahan. Kamipun sadar bahwa selalu akan ada rintangan di setiap rumah tangga, kami harus bersiap untuk itu. Kuncinya adalah keterbukaan, terbuka terhadap akan setiap hal. Entah itu sesuatu yang menyenangkan atau tidak mengenakkan di hati, karena dengan terbuka masalah-masalah yang ada bisa dipecahkan bersama-sama. Salah satu Inti dari pernikahan yang saya pahami adalah melakukannya bersama-sama.

saya dan istri

saya dan istri

Setelah sebulan menikah ada beberapa beban yang terlepas begitu saja, namun juga ada beban baru yang menggantikannya. Paling sederhana saya tidak lagi bingung mencari jawaban atas pertanyaan “Kapan nikah?” karena saya hanya akan menjawabnya dengan senyum kemudian menunjukkan seorang perempuan yang kini bisa saya panggil istri. Beban yang bertambah tentu saja beban sebagai peran seorang suami, bukan beban yang ringan tapi bisa dijalani.

Harapan-harapan kami terus mengucur tiap kali berdoa, semoga rumah tangga kami diberkahi, sakinah mawaddah warrahmah. Semoga rumah tangga kami dilengkapi dengan hadirnya si buah hati As Soon As Possible, untuk saat itu harapan itu yang selalu kami aminkan lebih keras. Semoga saja Allah memberi kami kesempatan menjadi orang tua dari seorang bayi yang lucu. Aaamiiin

Selanjutnya waktu yang akan menjawab dan kami siap belajar untuk membina rumah tangga yang baik. Insya Allah.

Selamat 1st Monthversary istriku (eh, akhirnya diucapkan juga)

5 comments on “Setelah Sebulan Menikah”

  1. Daeng Ipul says:

    ciyeee…ciyeeee
    x))

  2. hahahahha ngikut cie cienya dulu daeng ipul .
    thats right iyan, menikah itu melengkapimu
    saya malah kebalikan kamu sama istri nih, yang ceroboh malah saya KWWKKWK
    selamat merayakan cinta ya 😉

    1. Ardian says:

      siap kak QIah, makasih, doakan semoga sehat terus

  3. Walopun telat ucapinnya, semoga selalu SaMaRa yaa

    1. Ardian says:

      iye kak makasih

Leave a Reply

%d bloggers like this: