Kebiasaan-kebiasaan Makan Orang Bugis

Saya baru saja ke luar kamar bersama istri kemudian duduk di meja makan sambil meneguk segelas air, ketika Ibu mertua saya tiba-tiba bicara menggunakan Bahasa Daerah Palopo.

“Manggapa mu beng gallasa susi to. Dau mu bengngi muanemu gallasa susi to’, lapikki to galasa’na”

Satu hal yang saya tahu ketika Ibu Mertua bicara menggunakan Bahasa Daerah Palopo, itu berarti ada hal yang tidak harus saya ketahui atau istri saya sedang ditegur. Benar saja, istri saya ditegur karena memberikan minum kepada saya dari gelas yang tidak menggunakan alas/tatakan. Menurut ibu mertua saya, suami dalam keluarga adalah kepala keluarga maka gelas yang digunakan untuk minum harus menggunakan alas/tatakan sebagai tanda penghormatan.

“Ake mubengngi kande, pallainangi to nginang kandeanna. Alliang memangi to nginang kandeang, dau na sigaru sola punna’na taue. Ake deng kande mu allang memangi. Dau bengngi to sisa taue”

Persoalan tatakan gelas ternyata berlanjut ke hal lain, ibu mertua memberikan petuah tentang piring makan suami. Kata ibu mertua saya, piring makan suami harus beda dengan orang yang ada di rumah, piring yang tidak boleh digunakan oleh orang lain. Saat makan, suami yang harus pertama mengambil makan, tidak boleh mengambil sisa orang.

Saat itu saya bengong, istri manggut-manggut.

Begitu kami memutuskan pindah ke rumah sendiri, berpisah dari orang tua. Nasehat ibu mertua langsung jadi kenyataan, kini di meja makan piring yang saya gunakan berbeda dari yang lain, ada piring khusus yang tidak bisa digunakan oleh kedua adik saya yang kebetulan tinggal seatap di Makassar.

Adab makan di keluarga saya sendiri yang tinggal di Rappang, Sidenreng Rappang. Tidak terlalu kental seperti yang diterapkan oleh ibu mertua di rumahnya, saya sendiri tidak pernah melihat bapak makan dengan piring yang berbeda. Kebiasaan makan kami lebih khas di cara penyajian makanan, entah itu ketika makan di meja makan atau duduk bersila di lantai, semua makanan akan disajikan di atas baki. Kecuali nasi yang berada di luar.

Kemudian kami duduk mengelilingi baki tersebut, biasanya berurutan dari bapak, ibu, kemudian disusul anak sulung hingga anak bungsu. Kebiasan makan melantai lebih sering kami praktekkan di bulan puasa. Oh iya satu hal tentang makan berbuka dan sahur, ketika perempuan di rumah kami haid, maka tidak boleh makan bersamaan dengan yang lain, harus menunggu yang lain selesai makan.

Dalam budaya bugis, persoalan makan memang memiliki tata cara tersendiri. Tata cara yang menuntun kita agar lebih sopan di meja makan, atau lebih teratur. Misal dalam perjamuan makan kepada tamu, jika tamu lebih tua (senior) maka diberi tempat duduk paling atas atau hulu, kemudian disusul oleh tuan rumah. Tuan rumah tidak boleh selesai makan duluan jika tamu belum menyelesaikan makan, sehingga tuan rumah biasanya menambah makanan atau makan sedikit lebih perlahan agar tidak mendahului tamu.

Tamu ketika berkunjung ke rumah orang bugis, tidak boleh menolak ajakan makan oleh tuan rumah. Orang bugis percaya menolak makan bisa menimbulkan celaka saat perjalanan pulang. Beberapa tamu yang tidak bisa makan karena kekenyangan atau buru-buru, paling tidak mencicipi makanan yang telah dihidangkan, biasanya ada yang mengambil sesuap nasi atau sepotong lauk yang ada.

“maja tu ko yobbiki manre, na de’ tu manre, na kenna ki matu abala” begitu biasanya ucapan tuan rumah ketika tamu seperti menolak ajakan makan di rumah. Hal ini masih sering saya dapati ketika bertamu ke rumah keluarga atau teman.

Ketika makan pun ada beberapa hal menjadi aturan, misalnya ketika makan itu mengangkat piring. Tidak boleh meletakkan bagian bawah piring di tangan, hanya boleh memegang pinggirnya. Saya pernah bertanya kenapa? Pamali katanya. Seperti banyak pamali lainnya yang selalu ada penjelasan logis, sepertinya hal ini hanya agar hawa panas dari makanan tidak mengenai tangan jika bagian bawah piring yang ditadah. Namun karena sudah terjadi turun temurun, akhirnya berlaku ke semua jenis makanan meski tidak panas.

Orang bugis ketika ingin menambah makanan, mereka tidak menghabiskan makanan yang ada di piring. Justu menambah makanan sebelum makanan yang di piring habis. Saya pernah mendengar cerita tak bertuan tentang hal ini, antara orang bugis dan orang jawa. Di sebuah perjamuan makan, orang bugis menambah makanan ketika makanan di piringnya masih ada. Sedangkan orang jawa menambah makanan setelah makanan di piringnya bersih. Mereka saling memperhatikan dan bergumam dalam hati.

“Loh belum habis kok nambah?” gumam orang jawa

“yasengni paja manre, mattamba mopi pale” orang bugis mengira si orang jawa sudah selesai makan ternyata masih nambah.

Sedikit banyaknya seperti itulah tata cara atau adab makan orang bugis yang saya ketahui, mungkin ada yang lain bolehlah dibagi.

Leave a Reply

%d bloggers like this: