Mengasuh anak, bukan tugas ayah!

Baru seminggu umur Gaizka waktu itu, putri dan anak saya yang pertama. Kehadirannya  membuat hari-hari  lebih cerah dan bersemangat, beberapa hal bahkan menjadi kebiasaan baru. Salah satunya adalah mencari baju anak yang lucu dan cantik di instagram. Baru tahu setelah punya anak, ternyata instagram bisa jadi surga belanja online. Suatu waktu beberapa online store saya intip satu persatu, dari satu toko ke toko yang lainnya dan akhirnya tertarik untuk melihat lebih lama di salah satu toko, setelah melihat beberapa baju yang dijual akhirnya saya menentukan pilihan. Liat di bio ada kontak whatsapp, saya pun segera menghubungi penjual via whatsapp.

Saya : “saya minat baju ini, harganya berapa yah?” (sambil mengirimkan capture baju yang saya maksud)

Penjual : “baik bunda, terima kasih telah menghubungi kami” (dan seterusnya)

Seketika saya heran, kok panggil bunda yah? Padahal kan foto saya jelas, nama saya pun laki banget. Apa memang membeli baju untuk anak adalah tugas bunda?

Ini bukan yang terakhir saya berada dalam percakapan seperti ini, satu kejadian yang serupa dengan cerita yang berbeda. Dimulai ketika saya hendak mencari informasi jasa foto anak untuk bayi baru lahir. Akhirnya ketemu dan saya pun menghubungi via WA. Percakapan berakhir hampir sama, penjual membalas dengan sapaan “SALAM BUNDA”. Saya merasa agak aneh, antara mau mengoreksi dan terjebak di pertanyaan “jangan-jangan hal seperti ini memang harusnya diurus sama Ibu?” bahkan hingga membawa saya ke pernyataan “mungkin mengasuh anak bukan tugas ayah”

percakapan WA

percakapan WA

Pernyataan itu kadang muncul di kepala saya, bukan hanya karena beberapa percakapan yang saya ceritakan sebelumnya. kebiasaan lain setelah punya anak saya mem-follow beberapa akun parenting, tujuannya sih supaya saya juga belajar bagaimana mengasuh anak, tapi lagi-lagi postingan-postingan parenting selalu diarahkan ke IBU. Postingan-postingan semisal Tips menangani anak sakit, tips mendidik anak, hingga tips memilih mainan semua ditujukan ke Ibu. Padahal kan ayah juga perlu dan butuh informasi-informasi seperti itu.

Tidak jarang juga saya mencari informasi-informasi di internet tentang hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan anak ataupun kesehatan anak, dan lagi-lagi artikel seakan-akan ditujukan kepada IBU saja. Dari kalimat pembuka hingga akhir, yang disebut itu IBU, MOM atau BUNDA. “Pasti BUNDA tidak mau anaknya sakit karena salah penanganan kan?” begitu salah satu kalimat pembuka sebuah artikel.

Mungkin karena Ibu yang lebih banyak berada di dekat anak, sehingga kebanyakan artikel tujuannya ke ibu. Saya mencoba berpikir positif. Sampai pada akhirnya saya dan istri berencana travelling membawa anak kami yang saat itu usianya 6 bulan. Saya pun mencari artikel tentang tips membawa anak dalam pesawat atau apa yang harus dilakukan ketika membawa anak dan beberapa hal yang ingin saya ketahui tentang membawa anak ketika travelling.

“BUNDA berencana membawa anak menggunakan pesawat terbang?” kalimat pembuka sebuah artikel yang kemudian saya skip.

“baru pertama kali naik pesawat bersama anak? Jangan khawatir MOM” kalimat lainnya.

Beberapa artikel selanjutnya yang saya buka pun hampir sama, seakan-akan artikel tersebut hanya boleh dan akan dibaca oleh ibu. Sampai di sini jika ada yang berpikir mengurus anak itu yah tugas ibu, tidak salah juga. Ada banyak hal yang mendukung dan mensugesti kita secara tidak sadar, tapi dilakukan secara terus menerus. Artikel lah, iklan di tivi lah, poster tentang ibu dan anak. Semua hal itu yang kemudian membuat banyak orang terutama saya, berpikiran mengasuh anak memang tugas ibu, bukan ayah.

Pernah sekali waktu ketika Gaizka umur satu bulan, di ruang tunggu dokter anak sambil menunggu giliran. Saya mencium bau tidak sedap, yang merupakan pertanda ada masalah di popok . Segeralah kami menuju nursery room yang berada di klinik tersebut. Di dalam nursery room tersebut, sudah ada seorang ibu dan anaknya sudah selesai menyusui, kami dipersilahkan masuk, istri langsung mengambil pompa ASI untuk menyiapkan ASI dan saya mendekat ke meja popok di sudut ruangan. Dengan beberapa gerakan tangan dan manuver-manuver sederhana saya selesai membuka popok, membersihkan dan memasang popok baru serta membedong anak saya. Tiba-tiba Ibu itu angkat bicara

“Lincahna suami ta dih ganti popok, nda kaku, bagus lagi cari na mabbedong, rapi ki, kalau suamiku deh biar mau naliat itu diganti popok anaknya nda mau juga” ibu itu tiba-tiba curhat.

Pemikiran mengasuh anak bukan tugas ayah, diperkuat dengan banyaknya ayah yang tidak tahu cara mengurus anak. Entah tidak tahu atau memang tidak mau tahu. Sehingga ketika ada ayah yang bisa, menjadi sebuah hal yang luar biasa. Padahal bagi saya, yang (merasa) bisa mengurus anak itu biasa-biasa saja. Tidak ada  yang spesial. Kemampuan-kemampuan tersebut bisa diasah kalau memang mau mencoba. Semua ibu baru pun awalnya kaku menggendong anak, kaku menggganti popok, memandikan anak dan lain sebagainya. Ibu akhirnya lincah karena (dipaksa) terlatih, saya yakin ayah pun jika ingin tahu caranya juga bisa lebih lincah dari ibu.

Beberapa ayah/suami sering menggunakan alasan tugas mereka mencari nafkah, bukan mengasuh anak.  Mencari nafkah memang sebuah keniscayaan, mau makan apa kalau tidak cari uang kan yah. Namun tidak bisa digunakan sebagai penghalang untuk membantu mengasuh anak. Kerjaan mengasuh anak yang biasanya dilakukan oleh ibu/istri sesungguhnya jauh lebih berat dari pekerjaan kita. Dibutuhkan energi yang besar dan sabar yang tebal ketika menghadapi anak. Dibutuhkan pengawasan penuh tanpa henti. Pernah saya mendapati istri saya belum mandi, belum makan karena kesibukannya menemani anak.

Padahal seharusnya mengasuh anak itu adalah tanggung jawab bersama, mengasuh anak adalah pekerjaan 24 jam sehari dengan masa kerja 7 hari dalam seminggu. Pekerjaan yang tidak ada hentinya. Mengganti popok, membersihkan bokong tidak akan mengurangi kadar ke-suami-an atau ke-ayah-an. Mengasuh anak bukan sebuah tugas tapi tanggung jawab, tanggung jawab suami-istri, ayah-ibu, tanggung jawab bersama.

19 comments on “Mengasuh anak, bukan tugas ayah!”

  1. Lelakibugis says:

    Pertamax, Ners!

    Ners, tolong dong bikin artikel bagaimana menjadi ayah yang bisa mengasuh anak, sekalian tips gitu.

    Abang Ners kan sudah punya pengalaman, dibagikan dong..

  2. Enal says:

    keduax. Itu yang kadang sulit bagi sebagian orang karena cenderung melihat kebiasaan sebagai budaya. Akibatnya, ketika melihat perbedaan tak jarang kita menjadi sorotan. Beruntung kalau yang terbangun adalah stigma positif. Mantap om dos…

  3. Unch! Terbaique emang nih kakak ners ayah siaga.
    Bisa masuk nominasi The Best Family Man versi BLOON 2019.

  4. icha afriza says:

    kalau begitu nanti saya pas punya anak bisa belajar di kita kak. hahahaha..

    terus tiba-tiba saya kepikiran juga,kenapa setiap masuk ke mall yang jual perlengkapan anak kecil pasti tanya nya juga, “bunda cari yang kayak bagaimana” “berapa umur anaknya bunda” padahal saya juga belum punya anak.

    dan setauku tips parenting cowok bukannya ada Ayah Eddy? sudah pernah liat kak?

    1. Ardian says:

      Jiah, saya pun masih beljar, kalau tentang ayah Edy saya kurang tahu

  5. Dawiah says:

    Betul sekali, mengasuh anak adalah tanggung jawab bersama, kan bikinya juga berdua alias bersama. Aups!

    1. Ardian says:

      Karena kerjasama adakah kunci bu da

  6. Nunu says:

    Hmm… di masyarakat menjadi hal yang belum wajar ayah mengurus hal rumah tangga kali yaa,? semacam semuanya beranggapan urusan anak urusan bundanya.
    ,buatmeki gerakan dan lempar isu isu Ayah juga bisa mengurus anak keren kali yaaa. Pasti banyak ayah ayah juga yNg begini, tp.belum kedeteksi.

    Duh komentar bisa mention dia gak ya? Hahahahaha

    1. Ardian says:

      Nanti sy capture komennya baru tag di story, si dia kan?

  7. Dari judulnya saya sempat mikir, ah jangan-jangan isinya misoginis semua, dari judulnya sudah misoginis (misoginis=pahaman yang mendeskritkan perempuan, menganggap mreka second sex, all responsibilty soal rumah tangga dibrikan ke perempuan dll..) ternyata setelah baca isinya, syukurlag, kak Iyan termasuk dari sebagian kecil dari kaum laki2 yang memandang ksetaraan gender, beruntung deh istrinya hahah.

    Saya sepakat jika budaya patriarki mmg msh mengakar, misalnya mindset soal merawat anak it bkn tanggung jwb lk2 hanya prempuan, pdhl sbnrnya nda ada bedanya.

    jelmaan patriarki skrg berbeda, cnth artikel2 atw kjdian di atas itu yg seolah2 smua tggung jwb mrwt anak harus bundanya.

    (haduh ngomong apa sih sy hahaha)

    1. Ardian says:

      Dehhh berat bahasanya,
      Tapi dasarnya begitulah intinya

  8. Adda says:

    Kalau saya seeh lebih kepada pembagian tugas saja sih. Saya cukup seringji juga mengganti popok anak, menyapu rumah, mencuci,kadang-kadang mencuci,memasak,mengantar anak sekolah dll. Walaupun istri lebih sering melakukan apa yang saya lakukan.

  9. Spertinya smua perempuan psti mau dan punya hasrat untuk dpat suami seperti itu kak. Apalagi skarang era modern. Sistem tatanan keluarga sdah tidak kaku kyak dlu lagi. Kesetaraan gender digalakkan dmana2. Perempuan skarang sdah bisa kaluar cari nafkah kyak suami dan suami tentunya juga harus bisa beradaptasi untuk menggantikan posisi istri.

    Ya, saya stuju kak stereotip Mengasuh Anak Bukam Tugas Ayah mmng pelan2 hrus kt ubah dari pemikiran laki2 kita.

  10. faryl says:

    Mungkin ini menjadi salah satu alasan kenapa Gender Equality ada dalam 17 tujuan pembangunan berkelanjutan.. Ya karena beberapa orang masih terbatas dengan sekat sekat itu. “harusnya kan itu tugas perempuan, bla bla” dan terimakasih kak, tulisan ini mampu menepis sekat itu!

  11. Mugniar says:

    Ndak nge-list ka’ tapi tertarik mampir.
    Sukaaak.

    Memang fathering sekarang lagi digalakkan. Sudah banyak sih ayah muda yang tergerak tapi ternyata Iyan masih dapat komentar aneh, ya. Berarti memang masih harus terus diedukasi masyarakat kita.

    Jaman baru ka punya bayi, orang sering memandang heran kalo jalan sama bayi, suamiku yang gendong bayi kami. Kalo pake stroller, dia yg dorong. Pokoknya gendong-menggendong urusannya. Itu saja na banyak yg heran

    Alhamdulillah suamiku siaga. Kasihanku kalo tidak karena Saya ndak kuat menggending. Ke mana2 menggendong bayi/anak Saya bisa pingsan.

    Prihatin juga masih banyak yg menganggap pengasuhan anak urusan ibu saja. Alhamdulillah suamiku juga mau cebok anaknya, ganti popok juga.
    Karena berdua ki’ maka anak lahir masak begitu saat rempong ibunya yg harus rempong terus padahal hamil dan segala keluhan saat hamil sampe melahirkan ibu pula yang tanggung?

    Hiks, sedihku.
    Eh maaf, terbawa emosi ka’.

    Keep writing Iyan.
    Salut.

  12. Betul banget, mengasuh anak itu bukan hanya tugas ibu, tetapi juga tugas bapak.

    Anak sulung saya malah lebih dekat dengan papanya dibanding dengan saya mamanya. Karena saat usia 1 tahun ke atas itu saya sedang sibuk-sibuknya kuliah. Jadi memang saat pergi kuliah, gantian papanya yang mengasuh dia.

    Lain halnya dengan anak kedua kami. Saya sudah full di rumah, sedangkan suami sedang sibuk-sibuknya dengan kerjaan di lapangan. Jadi yang kedua ini lebih dekat dengan saya.

    Tapi sebisa mungkin kami selalu membagi waktu agar sama-sama terlibat dalam pengasuhan kedua anak kami 🙂

  13. Nanie says:

    wahhh keren tulisannya, saya jadi terinpirasi bikin postingan seperti ini juga membahas Anbhar, ayah ASI full support sejak babyjo lahir. Sama kayak iyan, nda segan ganti popok, cebok dll, malahan sampai babyjo 3 bulan anbhar yang mandikan karena saya takut hahhaha

    Btw soal parenting dari sudut pandang laki-laki bisa cari-cari Ayah Edy atau Abah Ihsan

  14. Chintaaa says:

    karena belum punya baby, belum bs komentar banyak. hihihi tp saya setuju klo ngurus anak itu tunggung jawab bersama ayah dan ibunya. Toh Karena bikinnya juga sama-sama wkwkwkw

Leave a Reply

%d bloggers like this: