Ibu menyusui, ayah bisa apa?

Saya termasuk orang yang ingin selalu melibatkan diri dalam mengasuh anak, ganti popok, memandikan, menidurkan, membersihkan adalah beberapa hal yang saya lakukan untuk sedikit mengambil peran ibu. Ini karena saya percaya bahwa dalam mengasuh anak bukanlah wilayah ekslusif Ibu. Harusnya menjadi tanggung jawab bersama. Jikapun ada ayah yang berpikiran bahwa mengasuh anak bukan tugas dia, yah terserah setiap orang bebas berpendapat.

Kondisi pekerjaan yang tidak mengharuskan saya menghabiskan waktu di kantor tiap harinya dari pagi hingga sore, membuat saya jadi bisa meluangkan banyak waktu untuk mengambil peran dalam mengasuh anak. Sejak kelahiran anak pertama saya Gaizka di bulan Januari 2018, saya banyak belajar bagaimana cara mengasuh anak. Banyak membaca dan diskusi dengan istri, hal-hal yang harus dipersiapkan untuk tumbuh kembang anak. Dari situ akhirnya saya bisa dibilang lincah lah untuk menjaga anak. Bahkan beberapa kali, Karena istri ada urusan saya ditinggal berdua sama anak saya. No problem. Its easy.

Pernah sekali waktu pillow talk sama istri, seperti biasanya membahas banyak hal salah satunya tentang anak. Saat itu istri seakan berterima kasih kepada saya, karena telah meringankan bebannya dalam merawat Gaizka, apalagi saat itu kondisi istri saya lagi hamil muda (untuk satu ini semoga bisa saya tuliskan lain kali). saya hanya bilang selama saya bisa lakukan, pasti saya bantu. Kecuali satu hal MENYUSUI.

Yah satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang ayah untuk anaknya adalah menyusui. Kan ada susu formula? Bedalah ASI dengan sufor, semahal apapun sufor yang diberikan tetap tidak bisa menandingi kandungan ASI. Ini satu hal yang betul-betul menjadi wilayah ekslusif ibu, ayah tidak akan bisa menggantikan peran ibu untuk yang satu ini. Tapi sebagai partner dalam rumah tangga dan mengasuh anak, ayah tetap bisa melakukan sesuatu untuk mendukung proses menyusui. AYAH ASI istilahnya. Pada tulisan ini saya tidak akan menjelaskan tentang apa itu ayah ASI, hanya ingin sharing pengalaman menjadi ayah dan support istri dalam menyusui.

Jadi selagi ibu menyusui, ayah bisa lakukan apa saja?

Pijat Oksitosin

Untuk diketahui, Gaizka hanya mendapatkan ASI ekslusif selama 4 bulan. Satu dan lain hal ia dari lahir tidak tahu cara mengisap puting (bakat ayah tidak menurun), jadi Gaizka diberi ASI perah dan istri saya jadi ibu perah. Tenyata produksi ASI di awal-awal tidaklah lancar, menetes sedikit demi sedikit seperti air di musim kemarau. Nah satu hal yang saya lakukan untuk merangsang produksi ASI saat itu adalah PIJAT OKSITOSIN.

Pijat ini adalah rangkaian gerakan  yang dilakukan di punggung Ibu untuk merangsang pengeluaran hormon oksitosin, nah si oksitosin inilah horman yang  memproduksi ASI. Untuk gerakannya sendiri sih, saat itu saya nyontek dari youtube dan langsung praktek. Alhamdulillah hasilnya sesuai harapan, produksi ASI lancar sesuai kebutuhan si kecil.

Beli Cemilan

Ternyata ketika Bayi menyusui langsung ke payudara ibu, secara alami bayi juga merangsang produksi ASI secara terus menerus. Lain hal yang dialami istri saya, sebagai sapi perah eh maksudnya Ibu perah, dibutuhkan usaha-usaha untuk tetap menjaga produksi ASI tetap ada dan banyak. ASInya tetap ada, tapi tidak banyak. Terkadang si bayi masih mau minum, sudah habis sementara payudara ibu sudah kosong, belum mengisi kembali.

Untuk merangsang produksi ASI salah satu caranya melalui makanan, Ibu harus mengkonsumsi makanan yang bisa membantu produksi ASI lebih banyak. Bisa dengan mengkonsumsi sayuran hijau terutama sayur kelor dan daun katup atau makanan yang berupa kacang-kacangan.

Nah kacang-kacangan ini yang tidak pernah absen di rumah ketika itu, mulai dari kacang rebus, kacang goreng, kacang dalam kemasan. Sampai akhirnya ketemu satu produk yang menjual olahan berbagai jenis kacang dalam satu toples.

Selain itu di rumah selalu tersedia susu kedelai yang juga bisa membantu produksi ASI tetap lancar. Saya pikir hal ini tetap bisa berlaku untuk Ibu yang menyusui langsung.

Ringankan pekerjaan Ibu

Satu hal yang bisa dilakukan ayah ketika ibu menyusui adalah membereskan pekerjaan rumah, ibu yang harus fokus menyusui bayinya, kadang tidak sempat membereskan beberapa pekerjaan. jikapun ayah tidak sempat atau juga lelah untuk melakukan pekerjaan di rumah, minimal tidak menuntut banyak lah. Misal marah atau kesal ketika pulang kantor, tidak ada makanan yang siap di meja makan.

Kan bisa masak sendiri, masak iya saat bujang dulu tidak punya skill memasak sama sekali? Atau beli makanan jadi dulu lah. Tinggal ambil hape bisa pesan makanan lewat ojek online. Bahkan sekali waktu saya yang minta istri untuk tidak ke dapur

“sayang malam ini saya yang masak” berlagak kayak chef menuju dapur, dan berakhir dengan memasak mie instan plus telur.

Baca juga :Mengasuh anak, bukan tugas Ayah

Ikut begadang

Begitu anak pertama saya lahir, beberapa teman yang memberi ucapan selamat juga menitipkan pesan.
welcome to the club bro, siap-siap begadang”

Bayi terutama yang baru lahir, tidak tahu membedakan mana siang, mana malam. Kadang siang dijadikan malam, malam dijadikan siang. Sering ketika siang tidur terus, malamnya terjaga hingga subuh. Bagi orang tua baru, ini momen yang sangat mengejutkan sekaligus melelahkan. Sebagai orang dewasa, sebanyak apapun tidur di siang hari, ketika malam tiba terutama tengah malam, mata pasti mau tertutup. Jadi masalah ketika kita sudah lelah, mata sudah sayup tapi si bayi baru bangun.

Ayah tidak boleh egois dalam hal ini, paling tidak bangun untuk memberi dukungan moral untuk istri yang saya yakin juga sama ngantuknya dengan kita. Saya pun ketika terbangun tidak ngapa-ngapain, sekadar bangun sebentar terus husss husss ketika bayinya nangis, tidur lagi. Tapi ternyata ketika kita ikut bangun, ibu merasa mendapat dukungan, ibu merasa tidak sendiri. Hal ini membuat Ibu semangat menyusui.

Untuk yang kantoran, sebenarnya bisa atur shift, siapa yang giliran begadang dari jam berapa ke jam berapa, terus gentian tidur.

Kondisi ini sebenarnya tidak berlangsung lama, di kasus anak pertama hanya berlangsung di bulan pertama hingga pertengahan bulan kedua.

Jatah berkurang, sabar.

Untuk yang satu ini, para ayah harap bersabar. Aktivitas seksual tidak lagi sama seperti dahulu, bisa karena kelelahan yang mendera ataupun faktor hormon-hormon seksual yang menurun pasca melahirkan. Jangan bayi menyusui, ayahnya juga mau. Udah itu saja.

***

Saya yakin banyak hal yang bisa dilakukan oleh ayah sebagai partner ibu dalam mengasuh anak. Lain waktu saya ceritakan beberapa hal tentang mengasuh anak lagi.

Tinggalkan komentar jika kamu seorang ayah, yang kamu lakukan untuk membantu Ibu dalam menyusui.

Atau jika kamu seorang ibu, apa yang pernah dilakukan pasangan sebagai bentuk dukungan.

21 comments on “Ibu menyusui, ayah bisa apa?”

  1. lelakibugis.net says:

    apakah bakat ayah Iyan bisa diturunkan ke saya? *eh
    btw, ayah Iyan keren ih.. saya jadi mau juga jadi Ayah ASI alias Ayah Seperti Iyan.

    1. Ardian says:

      Bakat itu basic insting kayaknya
      Pas banget dih singkatan ASI hahaha

    2. Ardian says:

      Coba kalau nama saya ujang, singkatannya jadi apa dong?

      1. Dawiah says:

        AS * aups mallaka de…Tabik

  2. Mugniar says:

    Kan bisa masak sendiri, masak iya saat bujang dulu tidak punya skill memasak sama sekali?
    Wih, ini catatan bagi saya – untuk memberi bekal memasak pada anak bujang.

    Alhamdulillah, suamiku bisa masak. Malah di awal menikah dia lebih jago masak daripada saya.
    Alhamdulillah, dengan melihat ini, anak bujangku juga terdorong belajar masak. Dia masih SMP (atau malah SD, ya? Saya lupa), sudah bisa masak nasi goreng. Pernah rajin sekarang kayaknya terabaikan lagi kerajinannya karena sibuk dengan bimbel untuk UAN SMA.

    MEmang pasutri itu satu tim. Semua hal terkait anak selayaknya dikerjakan bersama-sama. Alhamdulillah, suamiku bukan orang yang membantu semuanya karena dia tipikal, apa-apa harus dibilang dulu hahaha. Tapi setiap diminta bantuan untuk melakukan pekerjaan RT, dia mau meskipun misalnya tertunda beberapa hari atau sampai saya terpaksa harus menyelesaikannya sendiri hahaha.

    Salut, buat Iyan. Pasti istrinya bersyukur sekali. Saya pun begitu, bersyukur sekali. Sampai anak bungsu, suamiku selalu siaga. Mulai dari bantu ganti popok di tengah malam, memandikan, mencebok, menggendong, masak, mencuci, mempertahankan pendapat kami tentang ASI di tengah keluarga yang menentang dll.

    Semoga makin banyak Ayah ASI yang sadar pentingnya bekerja sama dengan istri-tidak menganggap mengasuh anak hanya urusan istri. Karena jujur, menjadi ibu itu benar-benar harus berlelah-lelah dan terkejut dengan segala perubahan yang terjadi. Kalau bukan suami yang membantu dan mendukung, siapa lagi? Ke depannya toh untuk kepentingan keluarga juga.

    1. Ardian says:

      Sebenarnya sih ketika ada suami yang tidak mendukung istri, tdk serta merta salah suami. Ada juga salah istri karena tdk melibatkan suami dari awal, atau mmg ada komunikasi yg salah dan terganggu

  3. Unga says:

    Semoga semakin banyak bapak yang seperti Iyan, bantuan dan dukungan suami memang jalan keluar terbaik untuk membahagiakan istri. Sebab jika istri bahagia maka seisi rumah akan menjadi bahagia…
    Satu lagi tips membahagiakan istri, rajin-rajin belikan hadiah, ndak usah mahal-mahal kayak ikat rambut, sipi2, gantungan kunci lucu2, parpum, sepatu, tas, gelang emas, cincin berlian *eh
    Btw, itu perangsang ASI namanya daun katuk bukan katup… Ahahahah bahagiaku dapat omyan salah X))))

    1. Ardian says:

      Kita kak membaca pergi ji cari kesalahanku hahaha

  4. Ada 1 kalimat yang bikin saya gagal fokus,
    “bakat ayah tidak menurun”
    Itu maksudbya bakat apa ya?
    Bisa tolong diperjelas?
    Atau dituliskan dalam artikel yang berbeda?
    Hihihi..

    1. Ardian says:

      Jadi gini kak……..

  5. Dawiah says:

    Saat-saat yang paling saya sukai selama berumah tangga itu adalah saat hamil dan menyusui. Serasa jadi ratu dengan dayang-dayang yang setia setiap saat. Tapi dayang-dayangnya hanya satu. Ayangbeb hahaha…

    Oh yah mengenai cemilan saat menyusui, mungkin itu juga penyebabnya saya jadi ABG (Atas Bawa Gede) sekarang. Setiap habis melahirkan dan menyusui berat badan bertambah. Cemilan terutama kacang selalu disiapkan Ayangbeb, bagaimana tidak gemuk na hampir tiap tahun melahirkan.

  6. Daeng Ipul says:

    Luar biasa memang Omyan.
    Panutanku!
    Mudah-mudahan ada perempuan lain yang juga merasakan kehebatan seorang ayah Iyan..
    Eh maksudnya kehebatan seorang ayah seperti Iyan.

  7. ndak adpi suamiku kak, tapi nanti insya allah kalau adami kayaknya haruski kusuruh baca tulisanta yang ini. Biar bisaki termotivasi

  8. Arifah Novia Arifin says:

    Pijat oksitosin adalah pijat yg bagi saya paling ampuh untuk dipelajari calon ayah” siaga. Karena sdh terbukti pijat ini yg paling ampuh meredakan sakit punggung bagi ibu yg memberi ASI ekslusif. Aplg klo anaknya anak cowok. Intensitas memberikan ASI lbh tinggi drpd perempuan. Jadi pijatan ini yg paling bisa memberikan efek relaksasi.

  9. Daeng Techno says:

    Inilah tulisan yang harus dibaca oleh seorang lelaki yang sudah berstatus ayah..Jarang sekali suami dapat suami yang pengertian seperti Pak Ardian..terutama soal jatah berkurang ini point yang pling harus di mngerti oleh seorang lelaki setelah istri melahirkan. .

  10. Qiah says:

    awal2 menyususi saya sempat kesal sama suami
    karena dia ndak ikut begadang wkwkw
    enak dan nyenyak sekali bobonya meskipun baby nangis2 di samping nya
    wkwkwkwk
    beberapakali begitu sampai saya akhirnya mention ke dia kalau saya gak suka sikapnya bgitu tidur nyenyak haha
    tp ya saya juga harus ngerti karena besok pagi dia ngantor
    pulang kantor pi dia bawakan cemilan kesukaan buat sogokan tidur nyenyak nya hahahha

  11. ndypada says:

    Jadi ingat pas awal lahiran, saya dan suami harus LDR karena saya di Bone, suami di Jakarta. Baby blues pun menyerang, berdampak pada produksi ASI yang kurang lancar. Untung baby blues-nya tidak berlangsung lama.

  12. Nanie says:

    Salah satu support paling penting adalah selalu mendukung istri di tengah “serangan” keluarga yang suruh sufor saja nda usahmi ASI, sedikitji asimu menangis terus anakmu. Suami sebaiknya teredukasi juga masalah perASIan supaya bisa pasang badan kalau istri terpojok mi

  13. Mas Broh says:

    Anak saya yang kedua (cewek) malah dari bayi yang ngurusin saya. Mulai dari memandikan, ganti popok, pakai baju, ngasih makan, nyuciin popok dan lain sebagainya.

    Ini menjadi pengalaman yang tak terlupkan, dan menjadi pemantik saya untuk memahami betapa tugas seorang ibu itu sungguh dahsyat beratnya.

    Terima kasih sudah membangkitkan kenangan saya Mas? Salam kenal dari anak desa…

    1. Ardian says:

      Welcome to the club mas bro, mantap sekali memang jika kita sebagai laki-laki bisa mengerti posisi perempuan yg tugasnya berat, dgn begitu kita bisa punya alasan yg kuat utk membantu

  14. Mas Broh says:

    Catatan ini mengingatkan saya pada anak kedua saya. Mulai dari memandikan, ganti popok, pakai popok, memberi makanan saya lakukan sendiri. Karena waktu itu istri harus masuk kerja.

    Pengalaman ini tentu memngingatkan kita pada tugas ibu yang beratnya maha dahsyat.

    Terima kasih dan salam kenal dari anak desa.

Leave a Reply

%d bloggers like this: