Ada yang hilang dari Rappang

rappang

rappang

Saya mulai meninggalkan Rappang, daerah kelahiran saya pada tahun 2006. Keinginan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, adalah alasan utama, pada saat itu tidak ada pilihan untuk kuliah selain ke Makassar. Tentu saja ada perasaan berat meninggalkan kampung halaman, terutama karena ini adalah pengalaman pertama jauh dari rumah. Ada perasaan was-was bagaimana kondisi di ibukota, apakah akan senyaman disini, apakah saya akan betah, bagaimana dengan orang-orang di kota?

Rappang, sebuah desa kecamatan yang berada di sebelah selatan Kabupaten Sidrap, berbatasan langsung dengan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang. Sangat gampang menemukan lahan persawahan disini, maklum mata pencaharian utama adalah petani. Di beberapa titik terdapat kandang ayam, saya tidak tahu pasti tapi peternak ayam juga merupakan profesi yang lumayan banyak di sini.

Tiap libur kuliah entah itu hanya 2 hari atau lebih lama, saya pasti tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pulang kampung. Kembali ke rumah ibu, menyantap makanan ibu, bertemu teman-teman sekolah, nonkrong di tempat biasa, jajan di warung langganan dan segala hal yang tidak bisa saya lakukan di kota.

Kota Makassar menyajikan begitu banyak kemewahan, namun rappang sebagai kampung halaman dengan segala kesederhanaannya selalu berhasil membuat rindu.

Tahun 2012 saya diterima bekerja di makassar. Jadilah saya menetap untuk waktu yang lebih lama, pulang sudah jarang, karena liburpun tidak sebanyak dulu. 13 tahun berlalu, saya sudah menikah punya dua anak. Kesempatan untuk pulang kampung lebih sedikit lagi. Kadang malah hanya setahun sekali, Paling wajib pulang di saat libur lebaran, takut durhaka kalau tidak pulang atau malah di cap bang toyib.

13 tahun berlalu saya juga menyadari ada banyak perubahan di kampung saya ini, ada yang hilang dan tidak pernah kelihatan lagi, ada beberapa kebiasaan yang tidak lagi biasa terlihat. Ketika ngobrol dengan teman sekolah kadang kami bernostalgia masa-masa itu, memunculkan ruang-ruang rindu akan masa penuh kenangan.

Setidaknya ini beberapa hal yang tidak lagi pernah saya dengar atau lihat di rappang.

 Gema Muharram

Saya lupa tepatnya tahun berapa, tapi kemungkinan di rentang tahun 2000 hingga tahun 2004. Ada sebuah acara yang selalu digelar pada bulan penanggalan islam yaitu Muharram. Gema Muharram namanya, acara yang diinisiasi oleh remaja masjid dan pengurus Masjid Annur, paling tidak begitu seingat saya.

Gema Muharram ini kumpulan lomba-lomba yang bertema islam, baca Al-Qur’an, lomba adzan dan ada pagelaran yang diselenggarakan pada malam hari di panggung pementasan, antaranya sholawat badar, peragaan busana muslim, gerak dan lagu islam, teater/drama, lomba ini  diikuti mulai dari tingkatan SD hingga tingkatan SMA dan perwakilan remaja masjid.

Pada masa awal munculnya gema muharram ini, betul-betul menjadikan hiburan baru dan segar bagi warga rappang, pada malam pementasan warga rappang dan sekitarnya tumpah ruah di pinggir jalan lokasi pementasan. Jadi ajang kumpul-kumpul muda-mudi, ajang ketemuan. Pihak sekolah bahkan menaruh perhatian lebih untuk menyambut Gema Muharram ini. Persiapan latihan berbulan-bulan, persiapan kostum yang mewah. Semua untuk menjadi yang terbaik dibanding sekolah lain, ketika itu menjadi juara di gema muharram adalah sebuah prestasi membanggakan.

Pada masa ini pula, penyanyi lagu-lagu islam terkenal di kampung saya. Haddad Alwi dan Sulis adalah yang paling dikenal, berikut dengan lagu-lagu mereka, menjadi pilihan utama untuk katergori lomba gerak dan lagu islam. Saya masih ingat beberapa lagu mereka seperti Yaa Thoybah, Lil Abii Wal Ummi,  Salam alaika, Ummi. Lirik-liriknya bahkan masih saya hapal hingga sekarang.

Dulu, tiap sekolah atau perwakilan remaja masjid memperlihatkan kreativitas luar biasa dari kategori lomba gerak dan lagu serta Sholawat Badar, ada banyak koreografi yang indah bermunculan di panggung, dan berbeda dari sekolah lain. Saya melihat sebagai proses kreatif, sebuah hal yang bagus untuk memantik jiwa-jiwa kreatif anak muda rappang. Mulai dari sini tidak menutup kemungkinan mereka yang terlibat dalam prosesnya bisa memunculkan hal-hal baru yang kreatif juga.

Itu dulu, sekarang gema muharram redup. Jadi rindu masa-masa itu.

Remaja Mesjid

Seiring redupnya Gema Muharram, kegiatan remaja masjid di rappang juga ikutan redup. Sepengamatan saya  tidak lagi pernah melihat muda-mudi usia sekolah nonkrong di masjid saat sore hari. Dulu, ketika mau menjumpai teman sebaya, cukup datang ke masjid dekat rumahnya di sore hari sehabis ashar. Meraka akan berkumpul di sana bersama dengan teman-teman remaja masjid lainnya.

Entah mana yang mempengaruhi, Gema Muharram redup dan mempengaruhi eksistensi remaja masjid, atau hilangnya remaja masjid yang menjadikan Gema Muharram redup. Jelas keduanya saling bertautan, Gema Muharram bisa berlangung karena penggerak di belakangnya adalah remaja masjid, sebaliknya remaja masjid adalah salah satu partisipan dalam lomba-lomba di gema muharram.

Padahal yah, positif sekali jika muda-mudi ini aktif di kegiatan remaja masjid. Selain mendekatkan diri kepada Allah, juga mereka melakukan interaksi langsung dengan teman-temannya di luar sekolah dan melakukan kegiatan-kegiatan positif. Tidak seperti sekarang yang mainnya cukup di HP saja melalui game online.

Festival Musik

Dulu senang sekali nonton festival musik dekat rumah, hanya berjarak 50 meter dari rumah panggung yang megah dan kerlap-kerlip berdiri. Sayapun selalu begadang jika ada festival band yang berlangsung, untungnya selalu diadakan di malam minggu. Cuma saya selalu tidak paham dengan jenis aliran musik yang dimainkan kala itu, hanya seperti teriak-teriak dengan suara yang hampir parau, musik keras dan kencang, bahkan ada yang gigit kepala merpati hingga putus, di atas panggung. Sepanjang ingatan saya, itu terjadi antara tahun 1996-2000, musik-musik metal mendominasi. Lagu yang paling saya ingat itu lagu bendera kuning punya Betrayer.

Sayang sekali ingatan saya tentang waktu itu payah, saya tidak bisa mengingat tepatnya kapan lagu-lagu festival band mulai didominasi rock hingga slow rock, kira-kira tahun 2000-2001 lah. Di masa ini lagu yang paling saya ingat, sering dibawakan adalah lagu milik Band Jamrud dan lagu Cinderella punya Band Radja. Bahkan salah satu teman kelas di SMP,  pada jam istirahat selalu menyanyikan lagu ini bermodalkan sekop sampah dan sapu lidi yang diatur layaknya drum.

pada masa ini juga sudah banyak teman-teman sekolah yang tampil di panggung, mungkin karena aliran musiknya sudah mulai bisa diterima kebanyakan orang. Di tempat-tempat nonkrong yang ada ‘dekker-dekker’ tidak jarang dijumpai pemuda sedang bermain gitar atau belajar bermain gitar. Pada masa ini juga studio musik yang menyiapkan satu set alat musik laris sebagai tempat latihan. Dulu anak cowok yang keren itu standarnya adalah bisa main gitar dan lebih keren lagi kalau bisa manggung di festival. Saya tidak termasuk.

Ada dua tempat yang sering dijadikan lokasi panggung festival ini, di depan Pasar Sentral Rappang (lama) dan di depan kandang (sebutan untuk bekas terminal di rappang). Namun sekarang tidak pernah lagi terdengar atau terlihat ada festival musik seperti dulu. karena jarang pulang kampung saya pun tidak tahu penyebabnya apa, yang jelas tidak lagi sering dijumpai anak muda nonkrong dengan gitarnya di pinggir jalan. Satu hal yang jika ingin disebut sebagai penyebab hilangnya festival musik ini adalah

Club anak muda

Antara tahun 90an hingga 2000an, club anak muda di rappang ada banyak dan aktif. Entah aktif dalam sebuah kegiatan anak muda atau aktif dalam perang antar club. Beberapa club anak muda yang saya ingat diantaranya Matadoor Club Rappang, Cobra Club Rappang, Radur, Mandolay, Armyl dan masih banyak lagi yang tidak saya ingat lagi namanya. Club ini punya wilayah kekuasaan masing-masing, beberapa club ada yang berkoalisi ada juga yang musuhan.

Pada masa itu persaingan antar club ini sangat sengit, menyebrang ke wilayah kekuasan club musuh berarti cari mati, mati dalam arti yang sebenarnya. Tidak jarang di depan rumah, yang merupakan terminal menjadi lokasi perang antar club, perang berdarah yang bermodalkan senjata tajam, parang.

matadoor club rappang

matadoor club rappang

Dulu, anak muda ataupun anak sekolah dengan bangga, menyebut dirinya anggota club jika bergabung di club. Sekarang saya tidak lagi melihat itu, anak-anak muda sekarang lebih terkotak-kotakkan karena sekolah. Tidak seperti dulu, dalam satu sekolah bisa anak dua club yang bersaing menjadi penguasa sekolah, kalau ada perkelahian pasti mereka yang terlibat.

Baca juga :Sidrap, yang katanya lumbung narkoba

Adanya club-club inilah yang menjadikan festival musik eksis pada masa itu, paling minimal mereka mengadakan festival musik pada saat club mereka berulang tahun. Sekarang club-club itu hilang, tidak namanya tapi hilang eksitensinya. Mungkin itu juga menyebabkan festival musik tidak ada lagi, agak miris juga sih, karena festival musik ini sebenarnya jadi ajang penyaluran bakat anak muda yang ada di daerah.

Harusnya club-club ini tetap ada, tentu saja bukan untuk perang. tapi menjadi pelopor kegiatan-kegiatan positif seperti festival musik dan pertandingan-pertandingan olahraga,

Stasiun Radio  FM

“selamat malam para pendengar 98,9 Pandawa FM, sekarang kamu ditemani oleh vokalnya Raditya yang akan menemani kamu semua selama 1 jam ke depan, tentu saja dengan musik-musik pilihan kamu, jangan lupa menelpon di nomor……………”

Pernah sekali waktu saya belajar menjadi penyiar di salah satu stasiun radio dekat rumah. Siaran di jam 1 malam supaya tidak ada yang mendengarkan, maklumlah masih pemula. Dulu, di rappang ada beberapa stasiun radio FM yang didirikan oleh sekumpulan pemuda-pemuda yang peduli musik. Tsah. Tentu saja ini stasiun radio yang tergolong liar, yang tiap menjelang pemilu harus dinonaktifkan kalau tidak mau dirazia, setidaknya begitu  kata teman. setidaknya ada dua stasiun radio tempat saya pernah belajar bercuap-cuap dengan para pendengar, Pandawa FM dan Praja Muda FM.

Jaman musik-musik masih didengarkan melalui kaset berpita, dengan alat seadanya sebuah stasiun radio bisa berdiri. Meski ada beberapa, tetap saja tiap stasiun radio ini punya pendengar. Entah didengarkan melalui radio di rumah atau melalui Walkman yang masih merupakan barang mewah saat itu. Entah kenapa rasanya beda jika lagu kesukaan diputar sendiri atau diputar di stasiun radio setelah request sebelumnya.

Menjadi penyiar radio juga menjadi ajang keren-kerenan, tentu saja untuk mendapatkan nilai tambah di mata gadis-gadis remaja. Bahkan ada anggapan kalau penyiar radio itu playboy.

Pada masa ini juga ada banyak singkatan-singkatan muncul berdasarkan lokasi tempat tinggal, singkatan yang dipakai ketiak request lagu. Tentu saja singkatan yang keren untuk menggantikan lokasi tempat tinggal pada saat request lagu. Seperti JEPANG (Jijina Pasae Lao Rijang), Monas (MONri bolana anAS), Denpasar (DEpaN PASAR), Yoko (Yolo toKO), sakura (SAmping KUbuRAn) dan masih banyak lainnya.

Sekarang stasiun-stasiun radio itu tidak lagi terdengar, entah karena penggiatnya yang hilang atau tergerus oleh zaman, dimana mendengarkan musik sekarang sudah sangat mudah.

Apapun itu perubahan-perubahan yang terjadi di rappang ini tidak bisa dicegah, memang harus berubah. Namun sayang jika perubahan itu menghilangkan banyak hal positif, sebenarnya untuk menghidupkan beberapa hal yang telah hilang itu hanya butuh beberapa orang yang berinisiatif. Pertanyaannya kemudian, siapakah dia?

24 comments on “Ada yang hilang dari Rappang”

  1. lelakibugis.net says:

    Matadoor ini klub yang melegendaris di Rappang.. eh ada juga itu AnPasTa alias Anak Pasar Tapi Awas..

    1. Ardian says:

      Anpasta sebenanrya bukan club ana muda cuman penamaan lokasi yang dikerenkan

    2. Icha rizal says:

      Ka ancuuji,traktirka indomiee

  2. liadjabir says:

    wahh kk iyan ternyata orang rappang yaa. banyak keluargaku yg tinggal disana. sekarang radio sudah redup sih yaa gak kayak dulu. bahkan di kota2 besar. orang sudah beralih media mi

    1. Ardian says:

      Iye kak, wah ternyata kak Lia asa keluarga di Rappang?

      Iye radio sdh mulai menghilang

  3. Adda says:

    Jaman saya masih sekolah di Rappang yang rame adalah event balap motor. Sirkuitnya biasanya memutar di monumen. Waktu itu kelas saya di SMA 1 jendelanya menghadap ke jalan. Sesekali hiburanlah menonton mereka yang lagi mengetes motor.

    1. Ardian says:

      Wah Daeng Adda sekolah dj SMA 1 Rappang? Wah tidak sangka, sbrnya mau masukkan juga road race itu tp nda hilang itu road race cuma berganti tempat

    2. Ardian says:

      Awwaah siap senior! Satu almamaterki pale

  4. Sakinah Mathar says:

    Baca ini saya benar – benar rindu pada zaman itu …

    1. Ardian says:

      Salah satu penggerak remaja mesjid ki dulu dih? Mesra?

  5. Mugniar says:

    Banyaknya perubahan itu dih padahal tidak terlalu lama, hanya sekian belas tahun.
    Tentang club, mungkin sekarang mereka – anak-anak muda berkomunitas di media sosial?

    1. Ardian says:

      Tentang club mmg karena bergeserki kayaknya cara bergaul disana

  6. Sejauh apapun kita melangkah, pada akhirnya kampung halaman memang selalu menjadi destinasi yang selalu dirindukan hehe.

    Seiiring dengan berjalannya waktu, tak disadari ternyata begitu banyak perubahan yang terjadi. Sy sendiri karena sudah lama meninggalkan kampung halaman dan termasuk jarang pulang hehe, jadinya kalau pulang kampung merasa sangat berbeda.

    1. Ardian says:

      Kampung halaman selalu punya halaman2 yang menyisahkan kisah yang indah

  7. Banyaknya perubahan atau lebih tepatnya hilangnya kegiatan yang dulu pernah ada mungkin karena gak adanya regenerasi dengan junior2

    1. Ardian says:

      Mungkin itu salah satunya kak

  8. Ardian says:

    Rappang salah satu destinasi drive thru beberapa orang dirumahku haha. Karena keluarga kalo ke Rappang paling buat nyicipin kuliner2 khas saja baru pergi lagi.

    1. Ardian says:

      Maksudnya dari mana ke mana kak?

  9. daeng ipul says:

    Kenapa ini tulisan kayak dibuat tergesa-gesa dan tidak dicek ulang sebelum di-publish?

    Ada kesalahan penempatan kata depan, ada nama bulan yang huruf depannya tidak kapital, ada kitab suci yang hurufnya huruf kecil, dan banyak lagi kesalahan penulisan.

    Tolong dicek lagi yah. Belum bisa lolos kalau begini.

    1. Ardian says:

      Dibuat disela-sela jaga anak lagi sakit, sdh ditegur mi tadi sama lebug juga, tapi belm sempat perbaiki.

      Assyiap! Akan diperbaiki

  10. Rara says:

    Perasaan yang sama juga tiap kali saya pulkam, walaupun cuma ke kota Makassar haha. Perubahannya sudah drastis sejak 12 tahun yang lalu saya memutuskan untuk berkarir di luar kota Makassar . walaupun tiap tahun pasti pulang, tetap saja terasa perubahannya 🙁

  11. Rara says:

    Perasaanku sama setiap kali saya oulang kampung, walau pulangnya ke kota Makassar haha. Perubahan signifikan terasa dari berbagai aspek sejak 12 tahun saya memutuskan untuk berkarir di luar Makassar.

    Ada yang baik dan ada yang buruk tentu saja 😀

  12. Saya belum pernah ke Rappang. Tapi baca postingan ini jadi sedikit mendapatkan gambaran bagaimana Rappang dulu dan kini.

    Perubahan terjadi di setiap tempat ya kak. Lombok juga begitu. Paling terasa sih di suasana sepanjang jalannya, dulunya banyak pohon eh sekarang malah makin banyak bangunan. Sudah tidak teduh lagi rasanya.

  13. Siska Dwyta says:

    Hal yang sama pun saya rasakan di kampung kelahiran saya. Dalam kurun waktu delapas tahun ini sejak saya tinggalkan tahun 2010 silam memang banyak sekali terjadi perubahan… dan bener banget ya berinsisiatif lebih dulu tapi pertanyaannya siapa?

    Ya, klu nggak ada yang memulai ya nggak bakalan..

Leave a Reply

%d bloggers like this: