23.07 WITA, 31 Desember 2020. Saat orang-orang bersuka ria menyambut waktu pergantian tahun. Saya malah berada di ruang UGD Infection Centre RSUD Sayang Rakyat, tempat perawatan khusus pasien covid-19. Suara petasan sudah mulai terdengar satu-persatu dari jauh, samar-samar karena sedikit tertutupi bunyi monitor pemantau tanda-tanda vital pasien yang ada di UGD, beep beep beep. Malam itu saya mencoba tidur dengan segala gangguan yang ada. Pikiran yang mulai berkelana kemana-mana, suara ambulance yang datang silih berganti, suara monitor pemantau tanda vital, bunyi napas dari pasien sebelah yang mengalami sesak. Pergantian tahun terlewati dengan beragam bunyi-bunyian.

***

Rencana bertahun baru di Sidrap seperti tahun-tahun sebelumnya, harus batal. Padahal pakaian sudah masuk dalam koper, oleh-oleh untuk keluarga sudah terbungkus rapi, sisa dimasukkan ke mobil dan berangkat. Semua karena covid-19. Malam sebelum berangkat, saya merasa kurang enak badan, demam dan pegal-pegal. Flu nih kata saya ke istri sambil minta untuk istirahat lebih cepat, berharap besok fit dan bisa berangkat ke sidrap.

Namun ternyata demam tak kunjung turun setelah 3 hari. Malah ditambah menggigil dan batuk, pada saat itu tidak pernah terpikir kalau ini adalah covid-19. Flu kata saya kukuh. Begitupun yang saya sampaikan ke ibu yang sudah kapan hari kami beri tahu akan pulang kampung

Degga mujaji lisu?” kata ibu bertanya

“De’pa Ma, bolokeng mopa” kata saya menjelaskan kondisi yang belum fit karena flu

“Muddani aponi okkkoe appoe” tutup Ibu yang sepertinya lebih rindu cucu dibanding anaknya

Meski demam 3 hari, saya tidak berpikir untuk melakukan tes swab atau antigen, hingga istri juga mengalami hal yang sama. Berbeda dengan saya, istri lebih cemas dengan kondisi yang kami alami, ia menyampaikan ide sebaiknya kita periksa untuk memastikan apakah ini flu biasa atau bukan. Saya iya-iya saja. Syukurnya ketemu klinik yang punya layanan home care untuk rapid antigen.

Saya yang akan diperiksa paling awal, karena orang pertama yang mendapat gejala. Skenario pertama, Jika saya negatif, maka yang lain tidak perlu periksa. Skenario kedua, jika saya positif maka yang lain harus periksa. Kecemasan istri terbukti, terlihat dua garis merah pada alat antigen persis seperti tes kehamilan, saya positif. Berlanjut istri, ibu mertua, adik ipar juga positif. Hanya bapak mertua yang hasilnya negatif.

Diskusi terjadi seputar apa yang akan dilakukan selanjutnya, saya pribadi lebih memilih isolasi mandiri, yang kemudian didukung sama saran teman yang saya tanyai

“Ok, Protokol 3 M dirumah, 4 hari lagi diulang rapid antigen nya, klo positif lagi, isolasi mandiri meki 14 hari di rumah, sambil melapor di PKM” kata teman membalas pertanyaan saya terkait apa yang harus saya lakukan dengan kondisi saya sekarang.

Jika melakukan isolasi mandiri, bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana bisa kita menjaga jarak? Bagaimana menjelaskan ke anak umur 2 dan 3 tahun bahwa untuk sementara kami tidak bisa dekat-dekat dengan mereka? Bagaimana jika mereka ikut tertular dari kami?

Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian membuat kami bingung, cemas lebih tepatnya. Istri kemudian menelpon sepupu yang kebetulan seorang dokter, untuk meminta pertimbangan yang sebaiknya kamu lakukan. Hasilnya adalah kami bertiga diminta untuk ke rumah sakit. Saya, istri, dan ibu mertua karena memiliki gejala, sedangkan adik ipar tanpa gejala diminta isolasi mandiri.

Pertimbangan ke rumah sakit adalah karena saya dan istri mulai batuk dan berdahak, tanda bahwa virus telah menginfeksi paru-paru. Ibu mertua batuk meski tidak berdahak namun dikhawatirkan karena memiliki comorbid (penyakit penyerta). Pertimbangan ini diambil karena khawatir jika terjadi hipoksia kepada kami.

Hipoksia adalah penurunan kadar oksigen dalam darah, hal yang juga mengakibatkan sesak. Hipoksia sih bisa dideteksi dengan melihat kondisi umum pasien, sesak, pusing, bibir dan ujung jari mengalami perubahan warna. Namun pada perkembangannya dikenallah happy hipoksia, hipoksia yang terjadi tiba-tiba dan tidak ada tanda-tanda, potensi menyebabkan kematian. sama sekali tidak ada happy-happynya. Hal ini yang membuat dokter menyarankan kami ke rumah sakit, agar dapat dipantau perubahan-perubahan kondisi.

Setelah berdiskusi banyak dengan segala pertimbangan yang ada, kami memutuskan ke rumah sakit, tepat pada hari terakhir di tahun 2020.

Tiba di UGD, kami langsung diperiksa dan ditanyai mengenai kondisi yang kami, dilakukan pemeriksaan standar tanda-tanda vital seperti, suhu, nadi, tekanan darah ditambah Elektrokardiograpi (EKG) untuk melihat aktivitas jantung. Kami tidak mengalami sesak, sehingga kami tidak diberikan terapi oksigen.

Esoknya kami dipindahkan ke ruang isolasi lantai 3, kami beruntung karena kebetulan kamar yang kosong tersedia 3 tempat tidur dan kami bisa sekamar.

Hari pertama di ruang isolasi kami langsung diperiksa swab PCR karena sebelumnya kami baru melakukan rapid antigen, meski pemeriksaan antigen ini memiliki keakuratan hingga 90%, namun protokol yang berlaku tetap harus melalukan SWAB PCR untuk diagnosa lebih lanjut, terutama untuk melihat tingkat infeksius virus dalam tubuh. Hasil swab pertama di hari pertama tahun 2021 kami bertiga resmi dinyatakan positif.

Swab di ruang isolasi

Keberadaan kami di rumah sakit belum diketahui oleh keluarga di kampung, saya sengaja tidak mengabari karena menelpon tengah malam hanya akan membuat dumba’-dumba’ orang tua di rumah. Subuh hari itu, saya baru menelpon ibu. Seakan tidak terjadi apa-apa, saya memulai percakapan dengan nada riang sembari bertanya apa kabar? Tapi insting ibu memang kuat, bukannya malah dijawab, ibu balik bertanya?

Magako nak?” suara ibu terdengar cemas. Batuk yang saya tahan-tahan, langsung saya lepaskan dan mulai menceritakan semuanya. Setelah itu saya meminta ibu bersiap untuk menjemput cucunya di Makassar. Pagi itu anak-anak kami baru akan dilakukan pemeriksaan antigen, hal yang lebih kami cemaskan dibanding kondisi kami sendiri, bagaimana kondisi anak-anak? Positif kah?

Perasaan lega tak terkira ketika hasil antigen kedua anak kami adalah negatif, saya kembali menelpon ibu agar segera menjemput cucunya. Instruksi saya berikan, beli baju baru 2 pasang, tas baju anak-anak semprot sebelum masukkan ke mobil, tidak usah masuk di rumah, anak-anak ganti baju dulu baru naik di mobil. Sampai di sidrap semua pakaian anak-anak dalam tas di cuci. 4 jam kemudian anak-anak sudah Bersama dengan kakek neneknya, akhirnya kami bisa menjalani pengobatan dengan tenang.

Hari pertama di ruang isolasi kami bertiga baru merasakan anosmia, kehilangan indera penciuman dan perasa. Balsem yang saya bawa, saya dekatkan hidung dan hirup dalam-dalam. Benar saja, saya hanya mencium sedikit sekali bau balsem yang tajam itu. Begitu juga ketika makan, rasa makanan jadi hambar  nasi, ayam, sayur seperti memiliki rasa yang sama. Anosmia ini kami rasakan 2-3 hari.

Meski kami masuk bersamaan, ternyata keluar adalah cerita yang berbeda. Swab kedua dengan interval 7 hari setelah swab terakhir hanya ibu mertua yang hasilnya negatif. Pada swab ketiga 7 hari selanjutnya, istri yang negatif. Saya masih positif dan tinggal sendiri dalam ruang isolasi. Swab ke-empat pun saya belum dinyatakan negatif, barulah swab kelima saya bisa pulang. Yah, saya menghabiskan 25 hari pertama di tahun 2021 dari ruang isolasi, 31 desember 2020 hingga 25 januari 2021.

***

Minggu-minggu pertama isolasi, saya tidak mengupload apapun tentang kondisi saya di sosial media. Sengaja untuk menghindari pertanyaan beruntun dan hampir sama, saya juga sadar kadang orang bertanya bukan karena peduli tapi hanya penasaran. Meski begitu di minggu ketiga isolasi, ternyata saya yang penasaran ingin tahu bagaimana reaksi dan respon yang akan saya dapatkan. Akhirnya saya memberikan pengumuman melalui sosial media.

Sesuai dugaan saya, puluhan pertanyaan melalui komentar, direct message masuk. Mulai dari yang sekadar memberikan doa cepat sembuh, ada yang bertanya bagaiaman kondisi sekarang, ada pula yang minta diceritakan dari awal bagaimana kejadiannya hingga isolasi. Namun respon yang paling membekas adalah SEMUA ORANG PUNYA OBAT ANDALAN.

Yah, beda orang beda obat, beda orang beda cara. Saya mendapatkan banyak sekali rekomendasi obat agar bisa melawan virus covid-19, mulai dari yang tradisional olahan sendiri, herbal, hingga obat cina yang tulisan kemasannya pun full text china. Kami akhirnya dapat kiriman beberapa obat atau suplemen, saat tiba waktunya minum obat, ada belasan obat yang tersedia ditambah dengan obat yang disiapkan rumah sakit. Beberapa dari obat itu kami konsumsi, beberapa lagi kami simpan.

Belum lagi banyak yang memberi tahu teknik-teknik agar hasil swab negatif. Minum air putih tambah minyak kayu putih, olesi minyak kayu putih di lubang hidung dan telinga, bersihkan lubang hidung sebelum swab, sebaiknya sampel diambil dari lubang hidung kanan. Kadang-kadang saya merasa lucu dengan pendapat orang-orang dan lebih lucunya lagi beberapa dari tips itu saya ikuti 🙂

Dari pengumuman di sosial media dan interaksi melalui pesan, beberapa orang seperti tersadar bahwa covid-19 ini memang ada. Baru percaya ketika orang-orang yang dikenal terjangkiti. Beberapa teman juga akhirnya mengatakan harus lebih waspada ketika beraktivitas di luar. Untungnya saya bukan dalam lingkaran pertemanan atau keluarga yang percaya konspirasi, setidaknya begitu kesan yang saya terima. Sehingga tidak ada pesan atau pendapat yang berhubungan dengan konspirasi covid yang saya dapatkan.

Saya pun menyadari satu hal, bahwa kepedulian dan perhatian yang kita berikan ke orang, terutama ketika dia sakit ternyata memiliki dampak yang besar. Saya senyum-senyum sendiri ketika beberapa teman menelpon dan menyampaikan doa agar saya cepat sembuh, saya kadang terharu ketika teman-teman bergantian mengirimkan makan, minum, buah, hingga suplemen. Entah saya yang baperan atau hanya bosan dengan makanan rumah sakit. Selama ini yang saya ajarkan di kelas tentang memberikan dukungan kepada orang yang sakit, akhirnya bisa saya rasakan sendiri.

Vaksin bukan hal baru

Sejak covid ditetapkan sebagai pandemi, saya salah satu orang yang percaya bahwa akan ada vaksin yang dibuat untuk covid ini. Kata vaksin bukan hal yang asing bagi saya, ketika kuliah vaksin adalah salah satu materi yang disampaikan oleh dosen, saat jadi dosen pun materi tentang vaksin pernah saya bawakan beberapa semester.

Vaksin adalah sebuah upaya preventif atau pencegahan, dengan cara memasukkan unsur virus/bakteri/kuman dari penyakit yang ingin dicegah. Hal ini dilakukan untuk memberikan rangsangan LEBIH AWAL kepada antibodi untuk membentuk pertahanan, canggihnya antibodi kita punya ingatan, sehingga setelah sebuah virus masuk, maka antibodi sudah tahu cara melawan dengan benar.

Sehingga ketika benar-benar terpapar virus, tubuh kita sudah siap untuk melawan. Bukan sebuah jaminan bahwa setelah vaksin, kita tidak akan sakit. Namun setidaknya tingkat keparahan dan tidak menimbulkan kerusakan bahkan kematian.

Indonesia punya pengalaman puluhan tahun mengelola program vaksin yang lebih kita kenal dengan program imunisasi, pengalaman itu adlaah sebuah harapan bahwa pemberian vaksin covid-19 pun akan bisa terlaksana, kendala pasti ada, tapi saya percaya program vaksin ini akan berhasil. Cuma persoalan waktu.

Sejak vaksin covid-19 santer diberitakan akan ada di Indonesia, saya sempat mencoba mengedukasi melalui postingan tentang apa sih itu vaksin? Kekeliruan masyarakat tentang vaksin membuat banyak yang menolak, padahal mereka sendiri pernah menerima vaksin. Lengkapnya bisa cek pada link ini

Ada banyak pengalaman saat pandemi covid-19 yang saya alami, namun inilah pengalaman yang paling berkesan bagi saya. Menjadi pasien covid-19 dan keluar sebagai penyintas. Meski harus menjalani isolasi selama berminggu-minggu, saya bersyukur karena bisa melewatinya. Selama isolasi beberapa kali saya mendengar pasien di ruangan lain harus meregang nyawa dan kalah oleh covid-19.

Mari berharap virus covid-19 ini bisa kita kalahkan dan kembali ke kehidupan normal atau lebih tepatnya kehidupan normal yang baru. Tetap jaga kesehatan, jaga Protokol kesehatan. Salam sehat, Salam Tangguh.

“Tulisan ini diikutkan dalam #TantanganBlogAM2021

By Ardian

49 thoughts on “Menyambut 2021 di Balik Ruang Isolasi Covid-19”
    1. Paling deg degan menanti hasil swabnya Gaizka dan Gie, paling menenangkan pas tau negatif yaa. Paling seru dapet beragam saran dari orang orang yaa hahaha orang Indonesia memang kreatif dalam kehidupan. Termasuk proses penyembuhan wkwkw

  1. Tulisan ini menggambarkn begitu detail pengalaman berdampingan dgn covid-19…disaat org telah menganggap sepele entah mgkn krn sdh lelah dan bosan dgn kehidupan dgn Prokes.. Hal ini tntux mengembalikan kembali kepeduliaan untuk mjga kesehatan dan ttap mematuhi prokes.. Smoga selalu menginspirasi yaaa.. Sukses.. Wonderfull story

  2. Trimakasih tulisanx ns.ian,, sngat mencerahkan.. vaksin adalah salah 1 ikhtiar, dan protokol 3M hrs d perthnkn..

  3. Karena pengalaman adalah guru terbaik.Terima kasih tulisan pengalamannya tentang Covid 19 dan Vaksinasi sangat inspiratif. Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan proses vaksinasi berjalan lancar sehingga bisa kembali beraktifitas pada kondisi mormal baru

      1. Luar biasa kesan yang ditinggalkan covid…semoga dijadikan pembelajaran bagi yang membaca….dan tdak menganggap covid ini hanya permainan…

        Salam penyintas…
        Saya sampai kehilangan calon anak ke 2 sy selama isman bulan kmarin

  4. Wow luar biasa ceritanya pasti sangat berkesan apalagi kalau menjelang tahun baru situasi ini akan teringat kembali. Dengan pengalaman diatas, siapa pun yg membaca bisa mendapat banyak pembelajaran, ttp jaga kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan 3M, Salamaki tapada salama. Terima kasih tulisannya Ns

  5. Wow sangat berkesan terlebih saat menjelang tahun baru pasti cerita ini akan teringat kembali. Dengan pengalaman di atas siapa pun yg membaca akan mendapat banyak pembelajaran. Ayo sama2 jaga kesehatan dengan menerapkan protokol 3 M, salamaki tapada salama. Terima kasih Ns sudah berbagi pengalaman yg luar biasa

  6. Thank you for sharing pengalamannya… Wahhh nda terbayang rasanya hrus berpisah sementara dr kluarga apalgi anak2 msih kecil yah … Tp dukungan kluarga n org dekat sangat2 luar biasa di masa2 sprti itu… Smoga jd pengingat buat pembaca, tetap patuhi protokol ksehatan… Jaga diri dan kluarga… Teriring doa smoga pandemi ini segera berlalu….

  7. Tulisan yang menginspirasi..jadi pengalaman klinik kasus Pandemi..jadi pembelajaran untuk diri dan bisa di share lebih luas lagi, menjadi sumber informasi dan juga bahan edukasi tentang COVID itu sendiri maupun tentang vaksinasi..
    Smoga semakin banyak yang sadar akan ini, ayo vaksin tuk tingkatkan pertahanan diri dari COVID-19 ini, jangan lupa protokol kesehatan tetap dijaga karena keduanya saling melengkapi✊✊, salam sehat

  8. Ibarat judul lagu, kisah ini seperti judul lagunya jikustik, “untuk dikenang”,, jangan sampai terulang.
    Selamat,, sudah bisa jadi pendonor plasma yaa

      1. Semoga menjadi pengalaman pertama dan terakhir yah ners… Keadaan sprti ini mmng mnjadi hal yg skrg ini mmbuat org dumba2.. Semoga selalu sehat bersma keluarga ners …

    1. Maasya Allah, tulisan inspiratif ini mengingatkan kita bahwa banyak hal yang terjadi, ada fenomena yg tidak bisa kita hindari. Tetap tegar dengan harapan yang sama semoga kita semua baik-baik saja. Izin Share Kakak

  9. Ketika ujian datang hanya ikhtiar dan doa yg bs kita panjatkan. MasyaAllah.. Ns iyand dan keluarga bisa melewatinya. Semoga kisah ini bisa menginspirasi banyak orang bahwa yang taat, patuh dan percaya sj dengan adanya Covid bisa terkonfirmasi. Bagaimana dengan yg tidak taat dan patuh dengan protokol kesehatan 3M??? InsyaAllah program vaksin bs menjadi ikhtiar kita bersama untuk memutus mata rantai penyebaran Covid.

      1. Smoga bnyak yg baca ini…spya org2 yg msih mnganggap covid ini konspirasi tersadarkan…mkin bnyak yg patuh dengan protkes..agar tdak ada lagi cluster kluarga dan cluster2 yg lain…stidaknya sayangi org2disekitar anda…
        Sehat2ki sekeluarga ns….

  10. Alhamdulillah..
    Sehat2ki selalu ns.
    Dari tulisan ta ini, bisa dirasakan bgitu besar nikmat kesehatan yg Allah berikan, nikmat penciuman dan perasa yg selama in Allah berikan dan mgkin bagi saya sering terlupa ternyata klo itu dicabut semntara waktu saja bisa bikin hidup hampa

Leave a Reply